Dari Leiden hingga Batavia, pengetahuan tumbuh di bawah bayang-bayang kuasa. Di tangan kolonial, ilmu bukan lagi jalan memahami, melainkan alat menundukkan dunia yang tak pernah mereka pahami sepenuhnya.
Dari lontar yang disangka teks Jepang hingga kamus yang salah tafsir, Belanda berabad-abad gagal memahami Islam di Nusantara. Michael Laffan menulis: kuasa mereka besar, tapi jiwanya tak tersentuh.
Tahun 1889, Snouck Hurgronje tiba di Batavia membawa dua wajah: orientalis dan haji. Di balik risetnya tentang Islam Jawa, tersembunyi kisah kolaborasi, pengawasan, dan persinggungan iman.
Dari ladang tebu yang terbakar di Cilegon 1888 hingga meja birokrat kolonial di Batavia, lahir proyek besar Belanda: menjinakkan Islam. Ketakutan pada Mekah berubah jadi strategi kekuasaan.
Tahun 1885, Snouck Hurgronje menanggalkan identitasnya, menyamar sebagai muslim bernama Abd al-Ghaffar di Mekah. Dari kota suci itu, ia belajar Islam bukan untuk beriman, melainkan untuk menaklukkan.
Dari arsip berdebu di Leiden, terkuak jejak Snouck Hurgronje: ilmuwan yang menjembatani jihad Aceh dan reformasi Kairo. Michael Laffan menulis, orientalisme bukan sekadar ilmuia juga kekuasaan yang menyamar.
Di balik narasi damai dakwah dan pesantren, Michael Laffan menyingkap wajah lain Islam Nusantara: jejaring global ulama dan ordo sufi yang berdenyut di bawah bayang kolonial dan kekuasaan.
Islam Nusantara bukan kisah damai tanpa riak. Michael Laffan melihatnya sebagai gunung api yang sesekali meletuslahir dari silang budaya, jaringan ulama global, dan tekanan kolonial.
Dari rampasan naskah hingga ruang riset Leiden, Belanda beralih dari curiga menjadi ingin tahu terhadap pesantren. Tapi di balik rasa ingin tahu itu, kuasa tetap bicara.
Dua misionaris abad ke-19 datang ke Brunei mencari gereja penyeimbang bagi Islam. Tapi yang mereka temukan justru kekuatan spiritual yang tak bisa dijinakkan oleh logika kolonial.
Di balik sekolah-sekolah kolonial, tersimpan misi yang halus: menguasai lewat bahasa. Dari Surakarta ke Leiden, Islam dipelajari bukan untuk dipahami, tapi untuk diatur.
Pada 1812, Inggris menjarah Keraton Yogyakarta. Bukan cuma emas yang dibawa, tapi juga makna. Di tangan kolonial, manuskrip Islam Nusantara berubah jadi artefak, bukan warisan ilmu.
Dari jalan raya Daendels hingga rak-rak Leiden, naskah Islam Nusantara berpindah tangan di bawah bayang kolonialisme. Pengetahuan lahir, tapi juga menyimpan jejak penjarahan dan kuasa.