Cinta yang sejati juga diuji dengan ujian ketiga: apakah dzikir, ingatan pada Allah, secara alami terus segar dalam hati? Orang yang mencintai akan terus mengingat, bahkan saat yang diingat itu jauh.
Akan tetapi bagi banyak orang, pengakuan itu berhenti di bibir. Dalam hati, perasaan itu jarang benar-benar bangkit. Bahkan, banyak yang lebih bergairah mengejar dunia ketimbang rindu menatap Sang Pencipta.
Dalam lorong sunyi tasawuf, cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan, tetapi tujuan akhir dari kemanusiaan. Ia tak kasat mata, namun membentuk seluruh wajah batin seorang mukmin.
Bahkan ketika seorang istri lalai dalam kewajiban agamanya, Nabi memberi contoh dengan tidak bicara pada para istrinya selama sebulan, sebuah cara menunjukkan ketidaksetujuan tanpa melampaui batas.
Sang filosof terlalu sibuk dengan teori, kutipan, dan analogi yang rumit, tetapi jauh dari kenyataan hidup. Ilmu yang terputus dari realitas mudah kehilangan makna dan arah.
Dalam salah satu hadits, Nabi Muhammad menasihati: Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku.
Bahaya pertama: seorang suami yang mencari nafkah dengan cara yang haram. Nabi sendiri menegaskan: tak ada amal saleh yang cukup untuk menebus dosa itu.
Kebanyakan orang melihat dunia melalui kacamata keinginan dan ketakutannya. Nasrudin mengingatkan bahwa belajar melihat dengan jernih adalah pencapaian spiritual yang sangat tinggi.
Setiap malam, di sepertiga terakhir waktu ketika manusia lain terlelap, Khalifah Umar bin Khattab memukul kakinya sendiri dengan ngeri. Apa yang telah kau lakukan hari ini? serunya kepada dirinya sendiri.