LANGIT7.ID-Suatu hari,
Nasrudin Hoja diundang ke sebuah pesta pernikahan. Meja-meja penuh hidangan, orang-orang makan dengan lahap, dan suasana begitu meriah.
Di sudut ruangan, matanya tertumbuk pada seorang sahabat lamanya yang sedang asyik menyantap makanan. Tapi bukan hanya itu: sambil makan, sahabatnya itu juga sibuk menyuapi… kantong bajunya! Satu tangan membawa makanan ke mulut, satu tangan lainnya memasukkan buah, daging, kue ke dalam kantong bajunya yang sudah menggelembung.
Nasrudin hanya menggeleng-geleng melihat kerakusan itu. Diam-diam ia mengambil teko berisi air. Pelan-pelan, ia mendekati sahabatnya itu dari belakang, lalu menuangkan air ke dalam kantong baju yang sudah penuh makanan itu.
Tiba-tiba sahabatnya melonjak. “Hai, Nasrudin! Kau sudah gila? Kenapa kantong bajuku kau tuangi air?” serunya kaget.
Nasrudin tersenyum tenang sambil meletakkan teko. “Maaf, sahabat,” ujarnya santai. “Aku lihat tadi kantongmu sudah makan begitu banyak. Aku takut ia kehausan, jadi kuberi minum secukupnya.”
Orang-orang di sekitarnya pun tak kuasa menahan tawa. Sahabatnya hanya bisa terdiam, menatap kantong basahnya yang kini sudah tak selera lagi untuk makan.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Baju yang Lapar Hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini adalah sebagai berikut:
1. Jangan rakus dan berlebihanSahabat Nasrudin sibuk memasukkan makanan ke dalam mulut dan kantong bajunya. Ini menunjukkan sifat tamak: ingin mengambil lebih dari yang semestinya. Islam dan ajaran kebijaksanaan sufi mengingatkan, *“makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan”* (QS. Al-A’raf: 31).
2. Harta dan makanan punya tempatnyaKantong baju itu bukan untuk makan, dan bukan untuk disuapi. Apa yang bukan haknya akan membawa kesia-siaan, bahkan bisa jadi bencana—seperti ketika kantong penuh makanan itu akhirnya “diberi minum” oleh Nasrudin.
3. Nasihat bisa disampaikan dengan cara halus dan jenakaAlih-alih memarahi, Nasrudin menegur sahabatnya dengan cara lucu: menuangkan air ke kantongnya, lalu memberi alasan cerdas. Ini mengajarkan kita cara memberi pelajaran yang tidak menyakitkan, tetapi tetap mengena.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Mana Lelaki, Mana Perempuan? 4. Dunia hanya titipanKita kadang terlalu sibuk “mengisi kantong” dengan dunia, lupa bahwa semua itu tak akan kita bawa saat pergi. Jangan sampai kita lebih sibuk memberi makan “kantong” daripada memberi makan hati dengan iman dan kebaikan.
5. Bersikap sederhana itu muliaMakan dan mengambil secukupnya menunjukkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa orang lain juga punya hak atas hidangan dan rezeki yang sama.
(mif)