Sejarah mencatat pemimpin-pemimpin Islam mempraktikkan muamalah sesuai dengan ajaran Alquran dan Sunnah. Atas dasar itu, kerukunan antarbergama bisa tercapai.
Larangan duduk bersama orang-orang yang mengolok-olok agama Islam dimaksudkan agar orang-orang kafir sadar bahwa tindakan mereka itu tidak disukai Allah dan kaum Muslimin.
Apa yang disebut ibadah dalam Islam adalah segala aktifitas seorang muslim, baik yang terlihat (zahir) maupun tersembunyi (qalbu). Termasuk ucapan yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Imam Islamic Center of New York Shamsi Ali, menjelaskan, dalam Islam adalah toleransi bagian dari keyakinan. Toleransi bukan sekadar memberikan ruang kepada pemeluk agama lain untuk meyakini dan menjalankan keyakinan mereka, tapi menerima eksistensi mereka sebagai bagian dari sunnatullah.
Islam menawarkan solusi yang lebih jitu agar tolernasi dalam kehidupan umat beragama dapat tercapai sebagaimana yang tertuang dalam ayat terakhir Surat Al Kafirun.
Menurut Kamaruddin, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan itu, maka kerukunan dan kedamaian yang selama ini sudah tercipta dengan baik juga tetap akan terjaga.
Jika tetangga mendapat nikmat, kerap ada sifat iri dan dengki melekat dalam hati. Ini perlu dipehatikan, agar bisa berbahagia jika tetangga mendapat nikmat.
Memelihara kerukunan umat beragama di tengah pandemi menjadi kebutuhan seluruh dunia karena menjadi persoalan bersama. Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum (PUM) Kemendagri, Bahtiar menyebutkan Indonesia dapat menjadi kiblat bagi negara lain dalam kerukunan keagamaan.
Pandemi Covid-19 mengakibatkan efek domino kerugian di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Maka itu, sikap sensibilitas beragama lebih utama daripada semangat menjalankan ritual keagamaan tanpa memperhatikan kondisi sekitar.
Maarif menilai upaya yang dilakukan masyarakat atau organisasi yang bergerak di bidang menjaga kerukunan antarumat beragama harus sejalan dengan pemerintah.