Umat Islam dianjurkan memperbanyak shalawat di Hari Jumat sebagaimana anjuran Nabi SAW. Namun berapa kali kalimat tersebut diucapkan pada momen istimewa itu?
Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak bershalawat kepada Nabi SAW di malam Jumat, selain membaca surah Al Kahfi. Hal ini merupakan sunnah Rasulullah.
Shalawat merupakan amalan mulia dan bukti cinta seorang muslim kepada Nabi Muhammad SAW. Bentuk cinta dan harapan mendapat syafaat ini tak boleh bergeser.
Habib Fahmi bin Hamid Assegaf mengungkapkan, ayat tentang perintah shalawat kepada Rasulullah SAW turun pada bulan Sya'ban, bahkan Allah bershalawat pada Nabi.
Ketika hati selalu merindukan Rasulullah, kelak di akhirat akan dimasukkan ke surga bersama beliau. Cinta nabi juga menjadi pembimbing hati menuju kebaikan.
Misi dakwah melalui tepukan rebana dan lantunan shalawat yang dilakoni Annisa Rebana London, sejauh ini tidak mengalami benturan budaya dengan masyakarat setempat. Terlebih di tengah seruan anti Islam di beberapa negara Eropa.
Memuliakan Nabi dengan kata Sayyidina dalam shalawat merupakan hal baik. Ustadz Abdul Somad menilai kalimat ini bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad.
Tak banyak yang tahu bahwa maulid atau bacaan shalawat yang dibaca setiap Maulid Nabi di Nusantara ini, dikarang oleh seorang ulama dengan etnis kurdi, bukan etnis dari bangsa Arab terlebih Yaman.
Ada 5 keutamaan bershalawat kepada Rasulullah. Amalan ini merupakan salah satu sunnah di malam Jumat, bahkan dianjurkan bershalawat sebanyak-banyaknya.
Ada pemandangan berbeda di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bengkulu Selasa (12/10/2021). Apel pagi bergemuruh dengan Shalawat Thibbil Qulub yang disenandungkan dengan kompak oleh para anggota damkar.
Siapa sangka, shalawat yang populer dilantunkan di banyak negara ini digubah oleh seorang ulama dari Indonesia. Ia digubah oleh KH Ali Mansur dari Banyuwangi dan dipopulerkan Habib Ali Kwitang untuk melawan PKI.
Shalawat Mansub ini merupakan karomah Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid yang lahir di Hadramaut, Yaman pada 1895 M. Ia melakukan perjalanan ke Indonesia pada 1921 M dan menetap di Jember, Jawa Timur.
Pengasuh LPD Al-Bahjah Cianjur, Ustadz Muhammad Nur, menguraikan penjelasan para ulama terkait mengapa hanya Nabi Ibrahim saja yang disebut dalam shalawat saat shalat.