LANGIT7.ID, Jakarta - Shalawat merupakan amalan mulia dan menjadi bukti cinta seorang muslim kepada Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, tujuan awal shalawat sebagai bentuk cinta dan harapan mendapat syafaat Rasulullah tidak boleh bergeser.
Kerap di tengah masyarakat terdengar narasi ‘
shalawatin’ untuk mencapai segala sesuatu yang bersifat duniawi. Misal seseorang memiliki keinginan mempunyai kendaraan pribadi, namun uang yang dimilikinya tak cukup. Pada saat itu, kata ‘
shalawatin’ terucap dengan harapan bisa mendapatkan barang yang diinginkan itu.
Lalu, bagaimana hukum mengubah niat shalawat yang sejatinya ditujukan sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah?
Baca juga: Golongan Merugi di Bulan Ramadhan, Hanya Dapat Lapar dan HausPengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, menegaskan, umat Islam tidak boleh beribadah semata-mata meminta imbalan dunia. Logika itu terbalik. Sebab, Allah menjanjikan dunia untuk orang yang mengejar akhirat.
“Jangan menjadikan ibadah untuk mendapatkan imbalan dunia, akan tetapi beribadahlah kepada Allah, maka Allah akan beri dunia kepadamu,” kata Buya Yahya dalam akun
YouTube-nya, Selasa (13/4/2022).
Kendati begitu, Buya Yahya menjelaskan, bukan berarti ada larangan untuk meminta dilancarkan segala urusan dunia. Berdoa untuk imbalan dunia diperbolehkan selama beribadah kepada Allah. Namun, hal ini berkaitan dengan keikhlasan, di mana tingkat keikhlasan dari orang yang melakukan itu dinilai rendah.
“Ikhlas itu ada martabatnya. Ada martabat yang sangat tinggi, tidak mengharapkan apa-apa saat beribadah. Bahkan, tidak mengharapkan surga sekalipun,” kata Buya Yahya.
Tingkat terendah dari keikhlasan seorang hamba adalah ketika beribadah kepada Allah dengan tujuan meminta imbalan dunia, seperti dilancarkan rezeki atau meminta jodoh.
“Baca shalawat banyak biar dagangannya laris, atau mengharapkan jodoh, boleh saja. Sah saja kok, karena shalawat itu adalah senjata segala macam bisa sukses. Karena dengan bershalawat kepada Rasulullah, Allah akan bershalawat kepada kita. Bagaimana Allah bershalawat? Allah akan keluarkan kita dari kegelapan,” tutur Buya Yahya.
Kemudian, mengaitkan urusan dunia dalam ibadah dengan tujuan akhirat berkaitan dengan adab. Misal, seseorang mendirikan shalat dhuha karena menginginkan uang. Itu dinilai kurang adam meskipun masih meminta kepada Allah.
Justru, lebih baik jika menepis segala nikmat dunia dan mengalihkannya kepada akhirat yang lebih kekal. Jika seandainya diperlihatkan sebuah nikmat atau harta orang lain, tidak beradab semata-mata bershalawat untuk mendapatkan nikmat serupa.
Baca juga: Berkah Shalawat, Umat Islam Terhindar dari Tradisi Nasrani dan Yahudi“Hal lain, kalau kalian lihat ada gebyar dunia, jangan Anda tancapkan di hati, seperti misalnya, ‘Ya Allah mobil ini bagus, Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammad, semoga dapat ini’. Ini menancapkan dunia di hati Anda,” tutur Buya Yahya.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar sungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan dunia, bukan malah sebaliknya. Jika melihat sesuatu yang mengagumkan, maka tanamkan dalam hati tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat.
“Hidup sesungguhnya adalah hidup di akhirat,” kata Buya Yahya.
(jqf)