Dari ruang kolonial Batavia, Van Hovell merumuskan tafsir baru atas Islam Jawaagama yang ramah bagi kekuasaan. Di tangannya, pengetahuan menjadi alat penjinakan.
Kasidah bukan sekadar seni religi, tetapi jembatan yang menyatukan Islam dan budaya Nusantara. Dalam Festival Seni Budaya Islam 2025 di Kendari, Muchlis M. Hanafi menegaskan pentingnya menjaga kasidah sebagai ruang dakwah yang menyejukkan dan memperkuat identitas umat.
Di balik citra pemberontaknya, Imam Bonjol menyimpan kisah spiritual tentang dzikir, tarekat, dan reformasi Islam. Dari Luhak Agam ke dunia Utsmani, sejarah Islam Nusantara menemukan akarnya.
Kemenag luncurkan buku Tafsir Ayat-Ayat Ekologi karya LPMQ. Menag Nasaruddin Umar serukan kesadaran spiritual menjaga alam di tengah krisis iklim global.
Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi iman dan peradaban. Wahyu pertama Iqra membuka jalan lahirnya ulama sekaligus ilmuwan, dari masjid hingga laboratorium, tanpa pertentangan akal dan wahyu.
Bimas Islam Kemenag ungkap 34,6 juta pernikahan di Indonesia tidak tercatat negara. Abu Rokhmad dorong pencatatan nikah resmi demi lindungi hak istri dan anak.
Modernitas menantang, tapi Islam lahir dengan nilai yang lentur: dialog, ilmu, dan keseimbangan. Masalahnya bukan pada ajaran, melainkan pada cara umat memahaminya.
Nama Islam sendiri sudah mengandung pesan damai. Namun, mengapa agama yang mengajarkan salam justru kerap dikaitkan dengan konflik? Jejak ajaran dan sejarahnya mengungkap perspektif yang lebih luas.
Teknologi dan AI memberi jawaban cepat, tapi tak mampu menenangkan jiwa. Di tengah krisis makna dan kesepian digital, agama tetap menjadi pelampung yang tak tergantikan sepanjang zaman.
Dari perlindungan Raja Nasrani di Ethiopia hingga kekecewaan Yahudi Madinah, perjumpaan Islam dengan Ahl al-Kitab membuka babak baru relasi iman dan politik.
Indonesia sering dipuji sebagai negara Muslim demokratis. Tapi dari bilik pemilu hingga mimbar dakwah, tafsir keagamaan terus diuji oleh godaan politik identitas.
Kaum Muslimin meniru Barat untuk maju, tapi kehilangan jiwanya sendiri. Apakah kita mengulang kesalahan peradaban yang runtuh, atau menemukan jalan agar ilmu modern tak menggerus iman?