Islam Jawa, tulis Geertz, berkelindan dengan tradisi Hindu-Buddha, mistisisme lokal, hingga etika pertanian masyarakat desa. Dari situlah lahir tiga tipologi yang ia sebut santri, priyayi, dan abangan.
Di Yunani, pusat filsafat yang sering dipuja Barat, perempuan justru terpinggirkan. Di istana-istana, para wanita elite disekap. Di kalangan bawah, lebih menyedihkan: mereka diperlakukan sebagai barang dagangan.
Kebajikan dinilai bukan dari keluhuran moralnya, melainkan sejauh mana ia berkontribusi pada efisiensi sistem, pada kestabilan produksi, pada roda kapitalisme atau negara.
Agama Kristen, yang dulunya menjadi fondasi etis, kini, menurut Asad, hanya menjadi konvensi sosial. Ia hidup sebagai dekorasi, bukan sebagai kekuatan hidup.
Eropa pun mengalami kejutan intelektual. Ia menyebutnya Renaisanslahir kembali. Tetapi seperti dicatat Asad, kelahiran kembali itu bukan dari rahim gereja, melainkan dari sentuhan Islam.
Di masa lalu, Islam justru menjadi katalis pengetahuan. Tak ada Inkuisisi seperti yang dialami umat Kristen ketika ilmu pengetahuan menantang dogma gereja.
Di hadapan makalah Hans Kng, teolog Katolik progresif asal Swiss yang mendambakan kedamaian lintas agama, Nasr tidak menawarkan diplomasi. Ia mengajukan kritik tajam terhadap asumsi-asumsi Barat dalam melihat Islam.
Dalam babak baru sejarah modern, ketika umat manusia berlari dengan kecepatan teknologi dan terpesona oleh pertumbuhan ekonomi, satu pertanyaan mendasar pelan-pelan terhapus dari ruang publik: Apa arti hidup?
Dalam dunia yang dipenuhi retorika tentang perdamaian, toleransi, dan non-intervensi, pembicaraan tentang imperialisme Islam seolah terdengar kontras, bahkan provokatif.
Bagi Asad, Islam menegaskan bahwa manusia tidak harus menunggu akhirat untuk menjadi sempurna. Kesempurnaan itu bukan mutlak, bukan tanpa cela, bukan pencapaian ilahi.
Muhammad Asad mengajak dunia Islam untuk tidak menutup diri dari perubahan, tetapi juga tidak tunduk begitu saja pada arus yang merusak fondasi nilai. Di antara dua ekstrem itulah, simpang jalan Islam terbentang hingga hari ini.
Pandangan ini mencerminkan konsep totalitas dalam keislamansebuah prinsip bahwa iman bukan hanya keyakinan spiritual, tetapi juga penerimaan mutlak terhadap sistem nilai dan hukum Islam.