Di masa Utsman bin Affan, ekspansi cepat Islam memantik resistensi baru: bangsa-bangsa taklukan membaca kebangkitan Arab sebagai dominasi. Sentimen itu ikut menggerakkan pusaran politik yang berakhir tragis.
Kebijakan politik Utsman bin Affan memicu kegelisahan suku-suku Arab non-Quraisy. Dominasi elite Quraisy, terutama Bani Umayyah, menumbuhkan rasa terpinggirkan yang kelak menyulut gelombang oposisi di pusat-pusat garnisun Irak dan Mesir.
Dominasi politik Quraisy pada masa awal kekhalifahan memicu gelombang ketidakpuasan baru di Irak dan Syam. Para pejuang muda menuntut ruang kuasa yang lebih setara dari elite Mekah dan Madinah.
Diusir dari takhta dan terombang-ambing di perbatasan Turki, Yazdigird III tak menyerah. Dari Fergana ke Khurasan, ia menggerakkan kembali bayang kekaisaran Persia, memantik perang demi perang di timur.
Istakhr bergolak, Khurasan menyusul. Abdullah bin Amir menumpas pemberontakan Persia dengan tangan besi, menegakkan stabilitas sekaligus memicu tanya: kekhalifahan atau awal menuju kerajaan?
Pelanggaran perjanjian di Khurasan, Jurjan, dan Tabaristan pada masa Utsman memicu ekspedisi militer besar. Riwayat klasik menunjukkan tarik-menarik antara stabilitas daerah taklukan dan politik pusat Madinah.
Kabilah-kabilah di Basrah dan Kufah bergerak liar di masa Utsman. Ketegangan sosial dan politik berpadu dengan seruan etika lingkungan yang justru menuntut keseimbangan di tengah badai fanatisme.
Ketika Romawi gagal merebut kembali Syam dan Irak, stabilitas politik tumbuh dari fondasi sosial yang mengakar. Di balik itu, etika lingkungan dalam ajaran Islam memperlihatkan dimensi kepemimpinan yang lebih luas.
Di Naqyus, duel satu lawan satu mengubah arah pertempuran. Haumal tumbang sebagai syahid, namun keberaniannya menyalakan kembali api kemenangan pasukan Islam yang mengepung Romawi di Iskandariah.
Pada awal pemerintahan Utsman bin Affan (664 M), 300 kapal Romawi mendarat diam-diam di Iskandariah. Serangan ini mengguncang Mesir dan menjadi ujian besar bagi kekhalifahan muda.
Di perbatasan Persia, Azerbaijan menjadi ujian pertama bagi Khalifah Utsman. Pembangkangan pajak, kekosongan garnisun, dan bayangan fitnah memaksa pusat kekuasaan bertindak cepat.
Begitu dilantik, Utsman bin Affan memilih meneruskan kebijakan Abu Bakar dan Umar. Di tengah gejolak daerah dan ancaman luar, sang khalifah ketiga lebih hati-hati ketimbang inovatif.
Di awal pemerintahannya, Utsman bin Affan menghadapi ancaman beruntun dari Persia dan Romawi. Kebijakan luar negerinya terpaksa mengikuti garis keras pendahulunya demi menjaga kedaulatan.