Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home masjid detail berita

Ketika Al-Quran dan Sains Modern Bertemu di Titik Rasionalitas

miftah yusufpati Sabtu, 26 Juli 2025 - 05:15 WIB
Ketika Al-Quran dan Sains Modern Bertemu di Titik Rasionalitas
Di zaman yang digandrungi oleh AI dan teknologi molekuler, narasi Bucaille terasa seperti sapuan kuas tua di kanvas digital. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di antara deru mesin partikel di CERN dan percakapan tentang sel punca di laboratorium medis Eropa, nyaris tak terdengar bisik tentang Wahyu. Kitab suci dan tabung reaksi bukan pasangan yang umum dijodohkan. Tetapi itulah yang membuat pendekatan Maurice Bucaille, seorang dokter pribadi Raja Faisal yang kemudian menjadi pengkaji teks suci, terasa seperti gangguan dalam simfoni sekularisme ilmiah Eropa.

Ketika karyanya, La Bible, le Coran et la Science (Bibel, Qur’an, dan Sains), diterbitkan pertama kali pada 1976, ia seperti membalikkan meja di ruang makan para pemikir Barat: menyandingkan Al-Qur’an dengan hasil-hasil sains mutakhir. Dan bukan untuk menyerang, melainkan untuk menunjukkan harmoni. Harmoni yang, bagi sebagian besar ilmuwan yang dibesarkan dalam paradigma positivistik, terasa nyaris seperti penistaan intelektual.

Di Prancis, tempat Bucaille dibesarkan, pembicaraan tentang agama dalam konteks ilmiah nyaris selalu berhenti di dua titik: Yudaisme dan Kristen.

Islam, sebagaimana dikeluhkan Bucaille dalam catatannya, bahkan tak masuk hitungan. “Jika seseorang berbicara tentang agama, maka yang dimaksud biasanya adalah agama Yahudi atau Kristen,” tulisnya.

Baca juga: Siapa Menulis Taurat? Jejak di Balik Lima Kitab Menurut Maurice Bucaille

Islam dianggap terlalu asing—bahkan eksotik—untuk dibawa ke meja diskusi filsafat sains. Tak heran jika Qur’an, dalam banyak literatur akademik di Eropa kala itu, hanya muncul sebagai catatan kaki peradaban.

Lebih dari sekadar marginalisasi, Bucaille menyebut adanya systematic dismissal, penolakan sistematis terhadap Islam, sering kali dilakukan dengan cara yang lebih berbahaya: distorsi fakta.

Dalam artikelnya di Encyclopædia Universalis, misalnya, seorang teolog menyebut Qur’an sebagai “otobiografi” Nabi Muhammad yang didiktekan Tuhan—sebuah kesalahan faktual yang, menurut Bucaille, tak bisa dimaafkan. “Bahkan terjemahan Qur’an paling buruk pun tak akan menyebut kitab itu sebagai otobiografi,” ujarnya, getir.

Ia menyebut sumber kesalahan itu berasal dari seorang guru besar teologi Yesuit di Lyon. Dalam dunia akademik yang menjunjung verifikasi dan ketelitian, kesalahan seperti itu seharusnya menjadi bencana reputasi. Namun tidak dalam kasus Qur’an. Buku-buku serius tetap memuatnya, tanpa koreksi, tanpa malu.

Sains Versus Wahyu

Bucaille tidak hendak mengislamkan ilmu pengetahuan. Ia justru mencoba menguji keabsahan klaim Qur’an lewat kaca mata ilmiah—tanpa menanggalkan ketelitian medisnya. Ia menyodorkan bahwa banyak ayat dalam Qur’an berbicara tentang hal-hal yang baru dibuktikan ratusan tahun kemudian: asal-usul kehidupan dari air, pembentukan janin dalam rahim, bahkan tentang pergerakan langit dan bumi. Bagi Bucaille, harmoni ini bukan kebetulan linguistik, melainkan pertanda bahwa Wahyu dan Rasio tidak mesti bermusuhan.

Baca juga: Perjanjian Lama: Sejarah, Penyusunan, dan Perkembangannya Menurut Maurice Bucaille

Tetapi niat baik tak selalu mendapat sambutan hangat. Di lingkungan ilmuwan Barat, asosiasi semacam itu cenderung dianggap anakronistik. Agama—apalagi Islam—terlanjur dicurigai sebagai sistem kepercayaan yang mengekang kebebasan berpikir. Terlebih dengan sejarah benturan gereja dan sains di Eropa, wacana semacam itu lebih mirip nostalgia abad pertengahan.

Namun, ada satu institusi yang mengejutkan Bucaille dengan pendekatan barunya: Vatikan.

Ketika Roma Menoleh ke Makkah

Pada 1970, Sekretariat Vatikan untuk urusan antarumat beragama menerbitkan dokumen berjudul Orientations for a Dialogue between Christians and Muslims. Isinya menggugurkan banyak prasangka lama terhadap Islam. Bahkan secara eksplisit mengkritik kebiasaan umat Kristen Barat yang menyebut “Allah” seolah-olah merujuk pada Tuhan yang berbeda dengan “God” mereka. “Orang Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang sama,” tulis dokumen itu.

Dokumen sepanjang 150 halaman itu bukan hanya simbol niat baik Vatikan, tapi juga penanda bahwa sebagian elite Kristen mulai menyadari kealpaan selama berabad-abad: menganggap Islam sebagai agama inferior secara intelektual. Bagi Bucaille, ini semacam sinyal bahwa dialog yang dulu nyaris mustahil kini mulai menemukan pijakan etis dan ilmiah.

Ia menyambut baik upaya itu. Dan dalam beberapa peristiwa simbolik—seperti kunjungan ulama Saudi ke Paus Paulus VI, serta salat berjemaah yang diperbolehkan di tengah katedral Strasbourg—ia melihat peluang spiritual baru di Eropa. Peluang untuk memulai dialog jujur, bukan sekadar toleransi basa-basi.

Baca juga: Maurice Bucaille: Asal Usul Perjanjian Lama dan Tradisi Lisan

Bukan Pembelaan, Tapi Pembersihan Wacana

Bucaille menolak disebut sebagai apologet Islam. Ia menyatakan dengan tegas bahwa jika ada satu ayat dalam Qur’an yang bertentangan dengan sains modern, ia akan meninggalkan proyeknya. Tapi sampai saat itu, ia belum menemukannya. Justru yang ia temukan adalah sebaliknya: pengulangan konsisten fakta-fakta alamiah yang tidak mungkin diketahui oleh manusia abad ke-7 tanpa wahyu.

Konfrontasi Qur’an dengan sains, dalam pandangannya, bukan bentuk perlawanan, tapi proses klarifikasi. Dan proses itu perlu dimulai dari penyucian tafsir—baik dari kaum agamis yang gemar memakai sains sebagai pembenaran iman secara serampangan, maupun dari ilmuwan sekuler yang menolak teks suci tanpa pernah membacanya dengan metode ilmiah.

“Kita harus melakukan pembersihan dalam cara berpikir,” tulis dokumen Vatikan. Bucaille menggemakan ajakan itu dalam versinya sendiri: pembersihan dari prejudice, dari prasangka yang diwariskan turun-temurun, dan dari keangkuhan epistemik yang menutup ruang dialog.

Akhir yang Belum Selesai

Bucaille meninggal dunia pada 1998. Tetapi jejaknya masih terasa di rak-rak toko buku Islam dari Kairo sampai Jakarta. Karyanya menjadi semacam jembatan, meski bagi sebagian pengkritik dianggap terlalu berpihak. Namun, terlepas dari itu semua, ia telah memulai diskusi yang lebih jujur: tentang batas dan kemungkinan titik temu antara wahyu dan rasio.

Di zaman yang digandrungi oleh AI dan teknologi molekuler, narasi Bucaille terasa seperti sapuan kuas tua di kanvas digital. Tapi barangkali justru di situlah nilainya. Di tengah ketergesaan sains, ia mengingatkan bahwa tak semua pertanyaan bisa dijawab dengan logaritma. Sebagian hanya bisa dipahami dalam senyap—dengan kesadaran bahwa manusia, meski bisa mengukur bintang, tetap makhluk yang bertanya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)