Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home masjid detail berita

Menuju Pemenuhan Kebutuhan dan Kemandirian Ummat Menurut Syaikh Al-Qardhawi

miftah yusufpati Kamis, 30 Oktober 2025 - 16:30 WIB
Menuju Pemenuhan Kebutuhan dan Kemandirian Ummat Menurut Syaikh Al-Qardhawi
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: al Jazeera
LANGIT7.ID-Di tengah arus kapitalisme global yang menggulung ekonomi umat Islam dari dalam, gagasan kemandirian umat kembali mencuat ke permukaan. Satu pertanyaan lama muncul kembali: bagaimana umat dapat memenuhi kebutuhannya tanpa kehilangan jati diri dan arah spiritual?

Syaikh Yusuf al-Qardhawi, dalam karyanya Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah (Malaamihu Al-Mujtama’ Al-Muslim Alladzi Nasyuduh, 1997), menawarkan cetak biru pembangunan umat berbasis iman dan perencanaan. Ia menegaskan, “Umat tidak akan mandiri tanpa ilmu, perencanaan, dan pengelolaan aset yang amanah.”
Namun dalam tafsir kontemporer, gagasan Qardhawi tak sekadar idealisme agama—ia adalah kritik sosial terhadap ketergantungan struktural umat pada ekonomi dunia yang timpang.

1. Perencanaan: Dari Yusuf ke Data Statistik

Dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Yusuf di Mesir bukan sekadar cerita ketabahan—tapi juga pelajaran manajemen ekonomi jangka panjang. Qardhawi menafsirkan strategi Yusuf mengantisipasi masa paceklik sebagai contoh perencanaan berbasis data dan realitas lapangan.

Umat, katanya, harus “menyusun prioritas dan mengenali kemampuan diri,” bukan sekadar bereaksi pada krisis.

“Islam tidak anti modernitas,” tulisnya, “tapi menuntut akurasi dan tanggung jawab moral dalam setiap keputusan ekonomi.” Dalam konteks hari ini, tafsir itu bisa dibaca sebagai seruan untuk membangun basis data umat—dari pendidikan hingga pangan—sebelum berbicara soal kemandirian.

2. SDM: Bukan Sekadar Banyak, tapi Tepat

Kualitas manusia menjadi kunci kedua. Qardhawi menekankan pentingnya *tafaqquh fid-din* (pendalaman ilmu) disertai penempatan yang tepat.

Ia mengutip sabda Nabi: “Apabila sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”

Bagi Qardhawi, pendidikan Islam tidak boleh berhenti di ruang tafsir, tapi harus melahirkan ahli di bidang teknik, pertanian, ekonomi, dan pemerintahan. Ia memandang penempatan orang yang tepat di posisi yang sesuai sebagai bentuk ibadah sosial.

Dalam konteks kekinian, seruannya terasa menggema: umat kehilangan daya saing bukan karena kekurangan orang pintar, tapi karena salah tempat.

3. Menghidupkan Aset: Dari Tanah Hingga Bangkai Kambing

Qardhawi mengingatkan bahwa aset materi bukan untuk disimpan, tapi difungsikan. Ia mengutip hadits Nabi tentang bangkai kambing—yang walau mati, masih berguna kulitnya. Pesan moralnya sederhana tapi keras: “Jangan biarkan yang berguna menjadi sia-sia.”

Dalam pandangannya, membiarkan lahan menganggur sama saja dengan mengkhianati amanah. Ia bahkan mengutip sabda Rasulullah: “Barangsiapa memiliki tanah, hendaklah menanaminya, atau memberikannya kepada saudaranya.”

Kemandirian umat, tulisnya, tidak akan tumbuh dari konsumsi, tapi dari produktivitas dan tanggung jawab terhadap nikmat Allah.

4. Menyatukan Produksi: Antara Cangkul dan Besi

Qardhawi menolak dikotomi antara dunia pertanian dan industri. Ia mengingatkan bahaya jika umat “terlalu asyik mengikuti ekor sapi”—sibuk di sawah tapi melupakan jihad fi sabilillah dalam bentuk penguasaan teknologi dan industri.

Ayat dari surat Al-Hadid menjadi simbol kebangkitan ekonomi Islam modern: “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.”

Di balik tafsir spiritualnya, pesan Qardhawi terasa visioner: umat Islam harus memegang kendali atas sumber daya strategis—dari bahan tambang hingga energi—jika ingin keluar dari bayang ketergantungan ekonomi global.

5. Harta Berputar, Bukan Ditimbun

Dalam ekonomi Islam, uang bukan berhala. Ia alat, bukan tujuan. Qardhawi mengutip firman Allah dalam At-Taubah: 34: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka siksa yang pedih.”

Ia mengingatkan bahaya stagnasi ekonomi akibat menimbun harta. “Barangsiapa menyimpan emas dan perak, ia menzhalimi keduanya,” tulisnya, “karena menahan hikmah di dalamnya.”

Uang, dalam pandangan Qardhawi, harus berputar melalui zakat, investasi, dan kerja produktif. Prinsip itu sejatinya menantang budaya konsumtif dan spekulatif yang kini menjerat banyak negara Muslim.

Qardhawi menutup gagasannya dengan analogi tajam: “Harta umat seperti harta anak yatim; wajib dikelola dengan cara yang terbaik.” Negara, dalam hal ini, adalah wali yang harus menjaga, bukan menguras.

Di tengah krisis kepercayaan terhadap lembaga ekonomi dan politik umat, pesan itu terasa lebih aktual dari sebelumnya.
Kemandirian yang dimaksud Qardhawi bukanlah isolasi dari dunia, tapi kebebasan dari penindasan struktural dan kebodohan yang diwariskan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)