LANGIT7.ID, Jakarta - Shalat berjamaah memiliki keutamaan 27 derajat dibanding dengan shalat sendirian. Keutamaan shalat akan semakin berlipat-lipat bila dilaksanakan berjamaah di masjid.
Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِى الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ
Artinya: Barangsiapa berwudhu untuk shalat, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia berjalan untuk menunaikan shalat wajib, yaitu dia melaksanakan shalat bersama manusia atau bersama jama’ah atau melaksanakan shalat di masjid, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Baca Juga: Tiga Hikmah Isra Mi’raj Menurut Gubernur Sumbar Buya MahyeldiKeutamaan shalat berjamaah di masjid berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Seorang muslimah lebih utama melaksanakan shalat di rumah.
Dalam sebuah kajian virtual Ahad (20/2/2022), seorang jamaah bertanya kepada KH Didin Hafidhuddin. Bila suami berjamaah di masjid, lalu bagaimana dengan istri yang shalat sendirian di rumah, bagaimana keutamaan pahalanya?
Kia Didin menjawab bahwa istri masih bisa mendapat keutamaan shalat jamaah meskipun ia shalat sendirian di rumah. Pahala jamaah didapat karena istri taat pada suami dan mengikuti anjuran agama Islam bahwa sebaik-baik shalat bagi perempuan adalah shalat di rumah.
“Pahala istri kalau mendukung suami akan mendapat pahalanya meskipun dia tidak berjamaah. Karena istri tahu (bahwa shalat di rumah bagi perempuan lebih baik), cukup di rumah saja, tidak masalah,” kata Kiai Didin.
Baca Juga: Sejarah Pembangunan Masjid Pertama di Amerika SerikatDari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
Artinya: Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka. (HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya).
Dilansir laman Rumayhso, istri dari Abu Humaid As-Sa’idi, yaitu Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat ingin sekali shalat berjamaah bersamamu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab,
Baca Juga: UAS: Santri di Pesantren Selamat dari Efek Negatif Teknologiقَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى
Artinya: Aku telah mengetahui hal itu bahwa engkau sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun shalatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama dari shalat di ruang tengah rumahmu (hujrah). Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kaummu. Shalat di masjid kaummu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).
Ummu Humaid lantas meminta dibangunkan tempat shalat di pojok kamar khusus miliknya, beliau melakukan shalat di situ hingga berjumpa dengan Allah (meninggal dunia) (HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Baca Juga: Selamat Jalan Ustaz Syuhada Bahri, Dai Panutan Aktivis Dakwah(zhd)