Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Memahami Isra Miraj, Saat Rasul Menembus Logika Ruang dan Waktu

Muhajirin Sabtu, 26 Februari 2022 - 17:18 WIB
Memahami Isra Miraj, Saat Rasul Menembus Logika Ruang dan Waktu
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa agung yang dialami oleh Rasulullah SAW. Perkara waktu peristiwa penting itu, ulama memiliki ragam pendapat. Namun, pendapat paling populer peristiwa itu terjadi pada 27 Rajab.

Ulama tafsir M Quraish Shihab mengatakan, para ulama memang bersikap longgar jika berkaitan dengan sejarah. mereka lebih fokus pada substansi dan pesan yang bisa diambil dari peristiwa agung tersebut.

Setidaknya ada 15 pendapat para ahli hadits yang mengungkapkan waktu peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Ada yang mengatakan peristiwa itu terjadi pada Rabi’ul Awal pada saat Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul.

Ada pula yang berpendapat pada bulan suci Ramadhan pada tahun kesepuluh Hijriah. Ada juga yang berpendapat setahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah. Masih banyak lagi pendapat mengenai waktu peristiwa penting dalam sejarah Islam itu.

Baca juga: Hikmah Pengulangan Ayat-ayat Al-Qur'an

Menurut Quraish Shihab, perdebatan mengenai waktu peristiwa Isra’ dan Mi’raj tidak perlu dibawa ke ranah sengit. Hal yang perlu ditekankan adalah keimanan terhadap kejadian itu. Setiap umat Islam harus percaya bahwa Rasulullah pernah mengalami Isra’ dan Mi’raj.

“Meski para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu Isra’ dan Mi’raj dan makna dari dua kata tersebut, tetapi yang pasti adalah Isra’ benar terjadi dan tidak boleh diingkari,” kata Quraish Shihab melalui Podcast Quraish Shihab, dikutip Sabtu (26/2/2022).

Keimanan terhadap Isra’ dan Mi’raj tersebut berdasar pada Surah Al-Isra’ ayat 1. Allah Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Baca juga: Tafsir Surat Al Ashr: Berharganya Nikmat Waktu Bagi Manusia

Menurut penulis Tafsir Al-Misbah itu, orang yang mengingkari peristiwa Isra’ dan Mi’raj dianggap telah keluar dari Islam. Peristiwa itu terjadi pada diri Rasulullah sebagai seorang utusan Allah Ta’ala. Isra’ dan Mi’raj memiliki substansi tersendiri di alam dunia.

“Ini yang biasa orang lupa, ketika berbicara tentang Isra’ Mi’raj, dia hanya melihat yang dzahir dan hanya mengetahui yang lahir, padahal ada substansi dalam kehidupan,” tutur Quraish Shihab.

Jika dilihat dari sisi sains, para ulama atau para ilmuwan sudah menemukan teori relativitas waktu, yakni kaitan berbanding tolak belakang antara kekuatan dan kecepatan. Misal, semakin Kuat seseorang melempar batu, maka laju batu itu akan semakin cepat.

Namun, ada sesuatu di alam raya ini yang tak memerlukan tempat dan waktu. Dzat paling realistis tentang hal ini adalah Tuhan. Buat Tuhan, tidak ada istilah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Berbeda dengan waktu yang bergelut dengan istilah itu.

“Jadi, jangan pernah mengukur kekuatan tuhan dengan kekuatan anda. Di sini, kita biasa salah kalau kita bicara soal Isra' dan Mi’raj, kita ukur pakai tolak ukur waktu dan tempat,” ucap Quraish Shihab.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj tidak bisa diukur menggunakan waktu dan tempat dalam lingkup kehidupan manusia. Ada realitas berbeda di sana. Terlebih Rasulullah disebut bertemu dengan nabi dan rasul terdahulu saat Mi’raj. Demikian pula saat Isra’ dari Makkah ke Palestina.

Baca juga: Peristiwa Isra Mi'raj, Berikut Tiga Keutamaan Masjid Al-Aqsa Palestina

Analogi paling sederhana adalah cerita fiksi soal lalat yang terjebak dalam pesawat. Suatu ketika ada seekor lalat terjebak ke pesawat rute penerbangan Jakarta-Makassar. Sekitar Satu jam di Makassar, lalat itu tak berhasil keluar.

Hingga, pesawat itu kembali take off dari Makassar ke Jakarta. Saat tiba di Jakarta, lalat itu berhasil keluar dan bertemu dengan teman-teman lalat. Dia berkata, “Saya tadi pulang balik terbang dari Jakarta ke Makassar, lalu Makassar ke Jakarta lagi.”

Lalat lain pasti tidak percaya, karena itu di luar dari kebiasaan mereka, yakni di dunia peralatan. Memang betul lalat itu tidak punya kekuatan terbang pulang balik Jakarta Makassar, tapi dia diterbangkan oleh pesawat.

“Ini merupakan logika sederhana untuk memahami peristiwa Isra dan Mi’raj. Rasulullah tidak pernah mengaku melakukan perjalanan dari Makkah ke Palestina, lalu naik ke langit. Beliau selalu menyebut diperjalankan oleh Allah Ta’ala,” ucap Quraish Shihab.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan