LANGIT7, Jakarta - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Haji (KH)
Miftachul Akhyar menyatakan telah mengirimkan surat pengunduran diri dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal itu disampaikan Kiai Miftah dalam rapat gabungan Syuriyah-Tanfidziah PBNU di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).
Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdaltul Ulama (PWNU) Jawa Timur 2007-2015 itu menceritakan proses pemilihan dirinya menjadi ketua umum MUI pada akhir November 2020. Hampir dua tahun sebelumnya, kata dia, dirinya dirayu dan diyakinkan untuk bersedia jadi ketua umum
MUI.
Baca Juga: Ketua DPR Apresiasi Kepengurusan Baru PBNU Akomodir Perempuan"Di saat
ahlul halli wal aqdi (Ahwa) Muktamar ke-34 NU menyetujui penetapan saya sebagai rais aam, ada usulan agar saya tidak merangkap jabatan. Saya langsung menjawab
sami'na wa atha'na (kami dengarkan dan kami patuh). Jawaban itu bukan karena ada usulan tersebut, apalagi tekanan," ujar Kiai Miftah, dikutip dari NU Online, Rabu (9/3/2022).
"Semula saya keberatan, tapi kemudian saya takut menjadi orang pertama yang berbuat
bid'ah di dalam NU. Selama ini rais aam PBNU selalu menjabat ketua umum MUI," katanya.
Kiai Miftah membahkan, kini dirinya merasa bid'ah itu sudah tidak ada lagi. Jadi dirinya berkomitmen untuk merealisasikan janji di hadapan Majelis Ahwa, dengan mengajukan pengunduran diri dari jabatan Ketua Umum MUI.
Baca Juga: Ibarat Terminal, Ini Makna Pergantian Tahun Menurut Ketua Umum MUIDi sisi lain, Ketua Badan Pembinaan dan pengembangan Oganisasi MUI KH Salahudin Al-Aiyub membenarkan bahwa pihaknya telah menerima surat pengunduran diri dimaksud. Katib Syuriyah
PBNU yang juga Ketua MUI Bidang Fatwa
Asrorun Niam Sholeh menyatakan sangat menghormati keputusan rais aam tersebut.
"Awal pekan ini, surat tersebut telah kami terima. Selanjutnya, MUI akan merespon surat tersebut sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku di internal MUI," katanya.
"Kami akan mengonsolidasikan sesuai mekanisme organisasi," ujarnya.
Diketahui, hari ini PBNU mengadakan rapat gabungan untuk menetapkan berbagai program kerja, pembidangan masing-masing pengurus, penyusunan kepengurusan lembaga-lembaga, serta pembentukan sekaligus penyusunan tiga badan khusus, yakni Badan Pengembangan Administrasi Keorganisasian dan Kader, Badan Pengembangan Jaringan Internasional, dan Badan Inovasi Strategis.
Baca Juga:
Terpilih sebagai Rais Aam PBNU, Sekjen MUI: Semoga Sukses Emban Amanah
Beri Selamat ke Gus Yahya, Puan: Semoga Bawa Maslahat untuk Umat(asf)