LANGIT7.ID, Jakarta - Di sebagian besar pesantren, baik di Jawa maupun di luar Jawa, santri dilarang keras merokok. Para pengasuh pesantren tidak segan-segan memberikan
ta'zir (hukuman) berat pada santri yang ketahuan melanggar aturan pesantren itu.
Namun, tentu saja ada santri yang nekat melakukan pelanggaran. Bahkan, beberapa santri yang tidak tahan ingin merokok mencari-cari kesempatan pada malam hari, pada saat gelap di sudut-sudut asrama atau tempat lain. Bahkan, ada juga yang tidak jijik merokok di dalam kamar mandi sambil pura-pura buang air besar.
Baca juga: Keutamaan Niat dan Sahur saat Ramadhan, Ini Pandangan Buya YahyaLalu, apakah santri yang kedapatan merokok itu harus dikeluarkan dari pondok pesantren? Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, mengatakan, memberikan sanksi berat kepada santri yang ketahuan merokok adalah langkah tepat.
Namun, perlu diingat, banyak santri yang merokok hanya karena ikut-ikutan. Maka, yang perlu dilakukan adalah menarget santri yang jadi provokator mengajak santri lain untuk merokok. Meski begitu, Buya Yahya mengingatkan agar pengasuh pesantren tidak sampai mengeluarkan santri bersangkutan.
“Kalau menurut Anda kelasnya berat, dan memang berat, seperti yang mengajak, tetap saja tidak boleh mengeluarkan dia dari pondok. Tapi, Anda boleh memindahkan anak itu ke pondok yang di pondok itu boleh merokok,” kata Buya Yahya Melalui
Al-Bahjah TV, Senin (14/3/2022).
Buya Yahya tidak sependapat dengan pihak pondok pesantren yang mengeluarkan santri karena pelanggaran berat, seperti merokok. Dia menilai, semua santri yang datang ke pondok santri memiliki niat mulia yakni belajar agama. Maka keputusan mengusir dari pondok tidak tepat.
“Pindahkan saja, karena mungkin dia belum bisa meninggalkan rokok. Anda antarkan ke pondok baru. Kan ada Masih ada pondok yang boleh merokok. Ini kan masalah aturan. Aturan di tempat Anda, tidak diterapkan di tempat lain,” ucap Buya Yahya.
Buya Yahya khawatir, jika santri bersangkutan dikeluarkan dari lingkaran pondok pesantren, dia akan semakin tak terarahkan. Itu menjadi masalah baru. Sebab, bisa saja dia memang perokok berat yang memutuskan masuk pesantren.
Baca juga: 3 Cara Menjaga Kebersihan Hati Menurut Buya Yahya“Bisa jadi tidak bisa menahan rokok, karena sudah kecanduan. Jadi, jangan keluarkan, tapi Anda pindahkan dengan lembut, penuh kasih sayang, peluk, Anda hantarkan dia, kalau perlu Anda biayai pendaftaran di pondok baru, karena orang ingin baik, jangan diusir. Semoga Anda menjadi pendidik yang sukses," terangnya.
Di sisi lain, Buya Yahya juga berpesan kepada para santri agar mengikuti semua aturan yang berlaku di pondok pesantren. Kepatuhan merupakan salah satu kunci keberkahan ilmu.
“Kalau ada seorang anak melanggar di pondok dengan sendiri. Kadang diingatkan, sudah selesai. Tapi kadang senang mengajak, karena kesombongan dan pembangkangan. Kalau ada santri yang memiliki sifat seperti ini, semoga Allah lembutkan hatinya dengan ketawadhuan, sehingga menjadi santri yang baik dan istimewa,” ucap Buya Yahya.
(jqf)