LANGIT7.ID, Jakarta - Penulis buku
Menuju Rumah Minim Sampah dan
Bye-bye Sekali Pakai, Dian K. Wardhani, mengatakan, Ramadhan menjadi salah satu momen penting untuk membiasakan bergaya hidup nol sampah atau minim sampah. Umat Islam harus menjadi pelopor dalam hal ini. Terlebih, Ramadhan kini diidentikkan dengan peningkatan volume sampah.
Sampah di Indonesia menjadi salah satu masalah yang belum terpecahkan. Di kota-kota besar, rata-rata satu orang bisa menggunakan 700 kantong plastik per tahun.
“Akibatnya, di Indonesia 9,85 miliar kantong kresek dibuang dalam 1 tahun menjadi sampah,” kata wanita yang akrab disapa Dini itu kepada LANGIT7.ID, Kamis (31/3/2022).
Baca juga: Sifat Materialisme seperti Air Laut, Semakin Diminum Semakin HausSelain itu, 500 juta sedotan plastik setiap hari dibuang setelah satu kali pakai menjadi sampah. Bahkan, Indonesia termasuk 5 besar negara penghasil sampah makanan. Jika, setiap satu orang menyisakan sebutir nasi, maka diperkirakan akan ada 4.980 Kg nasi terbuang setiap hari menjadi sampah.
Masalah ini bisa diatasi jika masyarakat menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih, banyak dalil yang memerintahkan menjaga kebersihan. Dalam praktik sehari-hari, gaya hidup nol sampah bisa dimulai dengan beralih ke belanja kain.
“Belanja tanpa kresek bisa,” kata Dini.
Sedotan plastik pun bisa dikurangi dengan membiasakan diri menggunakan sedotan bambu, stainless, silikon, dan kaca. Plastik memang menjadi salah satu sampah yang sampai hari ini masih menjadi masalah besar.
Dia mencontohkan sampah saset yang banyak ditemukan di tengah masyarakat. Saset merupakan plastik berlapis metalik yang terdiri dari dua lapisan. Ternyata saset sangat sulit didaur ulang jika sudah menjadi sampah.
“Sampah saset atau plastik sering berakhir di perut hewan,” tutur Dini. Masalah ini bisa diatasi dengan mulai jajan tanpa kemasan. Dengan jajan tanpa kemasa, tentu bisa mengurangi sampah plastik. Demikian pula dengan air mineral kemasan, bisa memulai dengan memakai botol minum sendiri.
Selain itu, tisu juga menjadi masalah lain. Kertas tisu berasal dari serat kayu. Sejak 1985 hingga kini, luas hutan Sumatera terus berkurang sebesar 2,9 persen setiap tahun. Kini, hanya tinggal 24 persen luas hutan alami yang tersisa di Sumatera.
“Makin banyak kita memakai tisu, makin banyak pohon ditebang,” ucap Dini. Masalah tisu ini bisa diganti dengan sapu tangan, handuk, atau lap kain. Masalah lain juga datang dari styrofoam yang banyak digunakan pada bulan suci Ramadhan.
“Styrofoam berbahaya bagi kesehatan, bisa menyebabkan kanker, tidak dapat terurai. Jika dibuang akan menjadi sampah selama berabad-abad,” tutur Dini.
Dia menjelaskan, ada tiga langkah yang bisa dilakukan untuk memulai gaya hidup nol sampah yakni Cegah, Pilah, dan Olah. Masyarakat bisa memulai dengan menolak pemakaian plastik, tisu, dan styrofoam.
Baca juga: Pemerintah Dukung Upaya Pengurangan Sampah di IndonesiaLalu, pilah sampah sesuai jenisnya lalu salurkan. Ada banyak macam sampah yang mesti dipilah seperti sampah botol dan gelas plastic, kompos, logam, plastik bersih, kaca, kardus dan kertas, dan sasetan. Tahap ketiga sampah tersebut bisa diolah di rumah masing-masing.
Tips Ramadhan Hijau dan Fatwa MUI tentang Kewajiban Menjaga LingkunganSebenarnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa No.47/2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan. Fatwa itu berbunyi:
"Setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf."
Tabdzir adalah menyia-nyiakan barang/harta yang masih bisa dimanfaatkan menurut ketentuan syar'i ataupun kebiasaan umum di masyarakat. Israf adalah tindakan yang berlebih-lebihan, yaitu penggunaan barang/harta melebihi kebutuhan.
Momen Ramadhan bisa dijadikan momentum untuk bergaya hidup nol sampah. Rasulullah SAW telah mencontohkan hal ini. Itu bisa dilihat dari sunnah saat berbuka puasa. Sunnah tersebut bisa ditemui dalam banyak teks hadits.
"Contoh dari Rasulullah SAW adalah mengonsumsi kurma basah, jika tidak ada bisa kurma kering dengan bilangan ganjil dan air putih. Tidak ada anjuran berbuka dengan yang manis. Dengan mengikuti sunnah dan adab makan kita bisa terhindar dari keborosan belanja takjil menjelang buka dan juga kemubaziran sampah makanan," ucap Dini.
Sunnah tersebut bisa dimulai dari hal-hal kecil namun memiliki dampak besar. Dini mencontohkan, para penjual takjil yang ada saat ini bisa bergeser menjual makanan yang lebih sehat seperti buah potong atau makanan yang rendah gula dan bergizi seimbang.
Baca juga: Green Ramadhan, Latih Diri Tunaikan Puasa yang Ramah Lingkungan"Itu untuk menjaga kesehatan diri, menjaga hati juga menjaga bumi," kata Dini.
Mensosialisasikan gaya hidup nol sampah akan lebih baik jika mengajak masyarakat. Ini sejalan dengan anjuran Rasulullah SAW untuk menjadi perintis kebaikan. Beliau bersabda, “Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR Muslim).
Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengamalkan sunnah tersebut. Dini mencontohkan, mulai dengan mencantumkan poster minim sampah di papan pengumuman, memasang area minim sampah, menyediakan tempat sampah terpilah, menyediakan takjil tanpa sampah, menyiapkan air isi ulang untuk berbuka, dan tak lupa selalu sebarkan pesan hijau.
(jqf)