LANGIT7.ID, Jakarta -
Pelecehan seksual berpotensi terjadi di manapun termasuk di lingkungan yang semestinya aman yakni Pesantren. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya preventif untuk mencegah agar tidak sampai terjadi pelecehan seksual.
Dosen Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Dr Helmawati, memberikan tips untuk mencegah pelecehan dan kekerasan seksual agar tak terjadi di lingkungan pesantren.
Dia menjelaskan, pelecehan seksual kerap terjadi karena sifat manusia yang tamak atau tidak pernah puas dan mengikuti Hawa nafsu. Ali bin Abi Thalib pernah Berkata, “Ada dua hal yang penting saya takutkan menimpa kalian semua. Yaitu, panjang angan-angan dan menuruti hawa nafsu. Panjang angan-angan dapat melupakan akhirat dan mengikuti hawa nafsu dapat membuat seseorang menyimpang dari kebenaran.”
Baca Juga: Tindakan Asusila di Jombang, Tersangka MSAT Serahkan Diri ke Polisi
Lalu, bagaimana cara mencegah tindak
pelecehan seksual di lingkungan pendidikan?
Dalam teori pengendalian sosial, ada istilah preventif (tindakan pencegahan) dan represif (tindakan hukuman). Hal yang bisa dilakukan tentu preventif, karena represif sudah masuk ke wilayah hukum.
Menurut Helmawati, ada dua pengawasan melekat untuk mencegah pelecehan seksual di lingkungan pesantren, yakni pengawasan internal dan eksternal. Ini berfungsi untuk memastikan tidak ada penyimpangan di lingkungan pesantren.
Pengawasan InternalPengawasan internal bisa menguatkan keyakinan dan tauhid bahwa Allah Maha Melihat segala gerak-gerik manusia. Ini terutama untuk pendidik atau pembina yang tiap hari bersinggungan dengan santri.
“Tentu, ketika nafsu seksualnya muncul, maka dia mampu menahan karena Allah Maha Melihat,” kata Helmawati di kanal YouTube-nya, dikutip Sabtu (9/7/2022).
Pengendalian internal juga bisa dilakukan proses zikir dan pikir. Proses pikir, dalam teori kognitif, apa yang diterima otak akan diproses menjadi tindakan. Maka itu, pikiran harus diisi dengan hal-hal positif.
Baca Juga: Kecam Kasus Pencabulan MSAT, RMI NU Imbau Pesantren Jaga Integritas"Cara berzikir. berzikir kita merasa bahwa Allah yang Maha Melihat, dan kita hamba yang harus mengikuti perintah-Nya, kita mendekatkan diri kepada-Nya, dan fokus pada hal positif,” ucap Helmawati.
Pengawasan internal lain adalah shaum (puasa). Puasa dapat membantu seseorang mengontrol dan mengendalikan nafsu seseorang. Hasrat seksual seseorang akan mampu diredam dengan berpuasa.
Pengawasan melekat lain bisa diperoleh dari keluarga, khususnya istri. Istri bertindak sebagai pendamping suami, pelengkap, dan pengingat. Sehingga, istri bisa bertindak sebagai pengawas internal dan eksternal.
Pengawasan EksternalPengawasan eksternal yang pertama berasal dari orang tua yakni rutin mengunjungi atau berkomunikasi dengan anak, memenuhi kebutuhan anak yang berada di pesantren, dan berkomunikasi aktif dengan Kiai atau Ustadz.
Kedua, pengawasan dari Dinas atau instansi terkait. Pelecehan kerap dilakukan kepada anak yang lemah. Tentu seorang anak atau santri berada di posisi Lemah dibanding pendidik atau guru.
“Harus ada pengawasan dari instansi terkait. Pengawas yang datang berkunjung bukan hanya datang mencari kelemahan, bukan juga menjalin relasi, mereka datang utamanya menjalankan tugas agar anak yang lulus berkembang, seluruh potensinya, baik potensi fikir, jasmani, dan rohani,” ucap Helmawati.
Terlepas dari itu, setiap orang tua maupun pendidikan harus mencegah sejak dini tindakan
pelecehan seksual. Sebab, pelecehan bisa saja terjadi antar sesama santri.
Maka itu, para orang tua atau pendidikan harus memperhatikan dengan teliti ketika berkomunikasi dengan anak. Lihat bagaimana ekspresi anak ketika berkomunikasi dengannya.
Baca Juga: Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual di Lembaga Pendidikan“Apakah normal, ada sesuatu yang ganjil, Jika ada dirasa ada yang ganjil maka segera tindak lanjuti,” kata Helmawati.
Jika anak kurang terbuka, maka bisa menggunakan kalibrasi. Kalibrasi adalah komunikasi secara nonverbal yang dilakukan untuk mengetahui pesan-pesan yang ingin kita peroleh dari anak-anak, atau peserta didik atau santri.
“Kita akan mampu menilai, menganalisis, normalkah kondisi anak kita, apakah ada sesuatu yang ganjil? Jika ada yang ganjil maka segera tindak lanjuti. Agar kejadian tidak diinginkan tidak sampai terjadi berkelanjutan. Tentu saja apa yang kita lakukan sebagai salah satu bentuk tawakal kepada Allah,” tutur Helmawati.
(jqf)