LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden Sri Lanka
Gotabaya Rajapaksa akan mengundurkan diri dari jabatannya pada 13 Juli 2022. Hal tersebut mengakhiri protes berbulan-bulan oleh masyarakat yang putus asa dan marah akibat krisis ekonomi mengerikan yang melanda negara tersebut.
Masyarakat pun berunjuk rasa dengan menyerbu kediamannya. Peristiwa itu membuat Rajapaksa melarikan diri dengan menggunakan kapal angkatan laut.
Baca Juga: Cuitan Presiden Sri Lanka: Minta Bantuan Putin Kirimi Bahan BakarLantas bagaimana kondisi Sri Lanka saat ini?Mengutip dari Aljazeera, Senin (11/7/2022),
Sri Lanka telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam dua dekade, pada (7/7). Langkah tersebut diambil untuk mencegah inflasi yang tak terkendali dan menghindari pukulan ekonomi yang lebih dalam.
Bank sentral Sri Lanka meningkatkan suku bunga pinjaman sebesar 100 basis poin menjadi 15,50 persen. Sementara, fasilitas simpanan naik menjadi 14,50 persen, yang merupakan angka tertinggi sejak Agustus 2001. Parahnya, Inflasi Sri Lanka secara tahun ke tahun telah menyentuh 54,6 persen di Juni 2022.
Gubernur Bank Sentral P Nandalal Weerasinghe mengatakan inflasi bisa saja mencapai 70 persen. "Kami akan bekerja untuk mengelola inflasi sebanyak mungkin tetapi langkah-langkah lain seperti transfer tunai juga akan diperlukan untuk memberikan bantuan kepada orang miskin," katanya.
Baca Juga: Cadangan BBM Menipis, Pemerintah Sri Lanka KelimpunganNamun, kenaikan suku bunga juga akan semakin menekan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Saat ini, Sri Lanka sedang berjuang membayar makanan, obat-obatan dan bahan bakar dengan cadangan devisa yang sudah meyentuh rekor terendah.
Sri Lanka berupaya membuka program pembiayaan tambahan dari International Monetary Fund (IMF) senilai USD3 miliar. Pembiayaan itu akan dipakai untuk membayar impor penting.
Seperti diketahui, kondisi Sri Lanka kian memanas akibat
krisis ekonomi yang memburuk. Negara berpenduduk 22 juta orang itu gagal bayar utang luar negeri (ULN) USD51 miliar atau Rp754,8 triliun (kurs Rp 14.800) sehingga dinyatakan bangkrut.
Krisis ini diawali dengan insiden pengeboman di Kolombo pada April 2019 yang menewaskan lebih 250 orang. Kejadian itu memberikan pukulan serius bagi industri pariwisata. Kondisi itu diperparah dengan hadirnya pandemi Covid-19.
Baca Juga:
Krisis Sri Lanka Makin Parah, Kendaraan Pribadi Dilarang Isi Bensin
Timeline Kebangkrutan Sri Lanka Akibat Gagal Bayar Utang(asf)