Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Tafsir Surat An-Nur Ayat 61 Tentang Hak Penyandang Disabilitas

Andi Muhammad Ahad, 11 September 2022 - 07:05 WIB
Tafsir Surat An-Nur Ayat 61 Tentang Hak Penyandang Disabilitas
Tafsir Surat An-Nur Ayat 61 Tentang Hak Penyandang Disabilitas. Foto: Langit7.id/iStock.
LANGIT7.ID, Jakarta - Penyandang disabilitas sering mendapatkan berbagai stigma negatif. Stigma tersebut hadir sebab pengaruh stereotip bahwa penyandang disabilitas memiliki kekurangan dan tidak mampu melakukan berbagai hal dengan baik.

Oleh karena kekurangan tersebut, para penyandang disabilitas kerap termajinalkan. Padahal mereka memiliki hak yang sama dengan orang yang sehat jasmani pada umumnya. Surat An-Nur ayat 61 mengajarkan kita bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama, sebagaimana firman Allah:

لَّيْسَ عَلَى ٱلْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَن تَأْكُلُوا۟ مِنۢ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ ءَابَآئِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَٰنِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَٰمِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَٰلِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَٰلَٰتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُم مَّفَاتِحَهُۥٓ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَأْكُلُوا۟ جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya: Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.

Sementara, Sekretaris Dewan Hisbah Persatuan Islam, KH Zae Nandang menjelaskan tentang ayat di atas dalam. Aspek jihad, pada zaman Rasulullah Saw umat muslim kerap berjihad di jalan Allah demi menebar syiar Islam. Namun ada kelonggaran bagi penyandang disabilitas.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Muminun Ayat 42: Setiap Umat Memiliki Masanya

"Dalam ayat ini Allah izinka tidak berangkat (jihad) bagi yang buta, bagi yang pincang, bagi yang sakit," kata KH Zae Nandang dikutip dalam channel Youtube Persis TV, Ahad (11/9/2022).

Lebih lanjut, ia menambahkan, turunnya surat An-Nisa ayat 61 atas kehendak Allah yang pada zaman Rasulullah SAW para penyandang disabilitas kerap mendapat diskriminasi atas kekurangannya.

KH Zae Nandang menceritakan kala itu Rasulullah Saw tengah mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh kafir untuk berunding. Rasulullah berharap bila para tokoh besar mereka terangkul, maka pengikut mereka juga akan mengikuti jejak pemimpin mereka.

Dan kemudian datang seorang penyandang tunanetra yang membuat Rasulullah membuang muka sebab merasa terganggu, beliau adalah Abdullah bin Ummi-Maktum. Lalu Allah menegur Rasul-Nya dengan menurunkan ayat tersebut.

"Saat itu pula Beliau (Rasulullah SAW) merangkul Ibnu Ummi-Maktum, dan kenyataannya malah terus Ibnu Ummi-Maktum meningkat derajatnya di sisi Allah. Sementara tokoh-tokoh kafir yang dihadapi ternyata tidak," paparnya.

Dalam tadsir Al-Wajizz dijelaskan, tidak ada dosa dan kemaksiatan bagi orang-orang yang uzur yaitu orang buta, orang pincang, dan orang sakit. Tidak juga bagi diri kamu untuk makan di rumah-rumah kalian yang di dalamnya terdapat harta benda dan keluarga kalian, atau di rumah anak-anak kalian karena usaha anak termasuk usaha bapaknya.

Baca Juga: Hampir Berusia 1 Abad, Ini Jejak Intelektual Syekh Yusuf Qaradhawi

Atau di rumah bapak, ibu, saudara-saudara, paman, bibi (saudara bapak), om, atau tante kalian (saudara ibu), atau rumah-rumah yang kalian urus dengan seijin pengurusnya seperti seorang wakil (rumah), pembantu, penjaga keamanan, dan penjaga gudang. Atau rumah teman-teman yang kalian ketahui ridhanya (ash-shadiq digunakan untuk menyebut satu orang atau lebih seperti kata Al-‘Aduw dan Ath-Thiflu.

Dan kata itu digunakan untuk menamai orang yang dapat dipercaya persahabatannya). Tidak ada dosa dan kemaksiatan bagi kalian untuk makan secara bersama-sama atau berkelompok-kelompok. Dan jika kalian memasuki salah satu rumah yang disebutkan ini, maka sampaikanlah salam kepada penghuninya, sebaiknya kalian mengucapkan salam untuk penghuni rumah yang berpenghuni maupun tidak berpenghuni dengan maksud memberi salam untuk diri sendiri dengan mengucapkan: “Assalamu’alaina wa ‘ala ‘ibaadillahish shalihin.” Maka Malaikat akan membalas salam kalian.

Dan ucapkanlah salam yang merupakan salam dari sisi Allah yang mengandung banyak kebaikan dan menyenangkan hati orang yang mendengarnya. Seperti penjelasan itulah Allah menjelaskan bagi kalian ayat-ayat hukum supaya kalian memikirkan ayat-ayat Allah, memahami makna-maknanya dan mengetahui apa yang terkandung di dalamnya.

Said bin Musayyib berkata: “Ayat ini diturunkan terkait orang-orang yang ketika keluar dengan nabi SAW menitipkan kunci-kunci rumahnya kepada orang buta, orang pincang dan orang sakit, serta kerabat mereka.

Dan mereka (orang yang mendapat titipan) diperintah untuk memakan apa yang ada di dalam rumah mereka (orang yang menitipkan), mereka membutuhkan hal itu, namun mereka takut untuk memakan sesuatu dari rumah itu dan berkata:

“Kami khawatir tidak boleh melakukan hal itu” Kemudian Allah SWT menurunkan ayat ini.” Hal itu telah didahului oleh Ath-Thabariy. Dikatakan bahwa tidak ada dosa atas mereka dalam meninggalkan jihad. Dan itu adalah perkataan Hasan Al-Bashriy.

Baca Juga: Gontor Terus Berbenah Pascakasus Wafatnya Santri AM

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)