LANGIT7.ID, Jakarta - Komunitas whatsapp group (WAG) Forum Mubahatsah kembali menyelenggarakan diskusi serial pemikiran. Pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Umum PP Persis, Ustaz Jeje Zaenudin memberikan pandangan tentang ide tawasuth dalam ranah ijtihad dan berorganisasi.
Menurut Ustaz Jeje, seorang mujtahid itu idealnya dalam memutuskan fatwa bukan hanya mempertimbangkan
fahmun nushus (faham teks) tapi juga
fahmun naas (memahami kondisi atau realitas manusia). Inspirasi tersebut dikutip dari imam Ibn al Qayyim al Jauziyah dalam kitabnya
I'lamul Muwaqqi'in.
"Dasarnya terdapat pada kisah Muadz bin Jabal yang menjadi makmum salat Isya bersama Rasulullah, di mana beliau membaca surat yang panjang. Setelah setelah selesai, beliau bergegas menuju kaumnya, untuk menjadi imam, beliau membaca sebagaimana bacaan Rasul shallallahu alaihi wasallam sebagai ittiba," kata Ustaz Jeje dalam keterangan yang diterima redaksi Langit7, Senin (12/9/2022).
Baca Juga: Ustaz Jeje: Kecintaan kepada Allah Puncak dari Kesempurnaan ImanLanjutnya, ia menceritakan, namun ada jamaah Muadz yang memisahkan diri, karena bacaan Muadz memberatkan sebagian jamaah. Muadz menegaskan bahwa yang memisahkan diri dari saf jamaah maka termasuk orang munafik.
"Tidak terima dengan pernyataaan Muadz, maka sahabat tersebut mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sehingga Muaz dipanggil oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. "Apakah engkau akan membuat fitnah hai Muaz?" Beliau mengulang sampai tiga kali. Secara fikih sah saja apa yang dilakukan muaz, namun secara fahmun nushus, apa yang dilakukan Muaz itu keliru," katanya.
Ketua STAIPI ini menyampaikan ide keseimbangan antara laju ide pembaruan dan stabilitas. Di satu sisi, biasanya kalangan muda, berdasarkan pengetahuan anyar, semangat tinggi, tenaga yang kuat, namun minim pengalaman, berkehendak untuk menggaungkan ide pembaruan bahkan berharap secara revolusioner sampai ke akarnya.
Baca Juga: Persis Sayangkan DPR Diam dengan Kenaikan Harga BBMDi sisi lain, kata Ustaz Jeje, biasanya kaum tua lebih mempertimbangkan mempertahankan stabilitas. Namun terkadang melupakan atau mengecilkan perubahan yang mengarah pada pembaruan. Apa yang sudah berjalan harus berjalan sebagaimana mestinya.
"Dua titik ekstrim ini memang semacam sunnatullah, selalu ada dalam setiap generasi dalam organisasi, jika tidak dikelola dengan baik, bukan menjadi kekuatan, malah menjadi destruktif," ujarnya.
"Ide tawasuth dalam beroganisasi mewadahi kaum muda, penjaga pembaruan dan kaum tua, penjaga stabilitas ini, menjadi sangat menarik, untuk disuguhkan. Sehingga satu sisi pembaruan terus berjalan, di sisi yang lain stabilitas tetap terjaga," tuturnya.
Baca Juga: Bye Bye Basah, Ini 6 Sepatu Tahan Air Cocok untuk Musim Hujan(zhd)