LANGIT7.ID, Jakarta - Al-Qur'an merupakan kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk menyempurnakan agama Islam. Oleh karena itu, Al-Qur'an merupakan Pedoman hidup bagi umat Islam serta membimbing orang-orang terdahulu yang belum mengenal Islam di zaman Rasulullah SAW.
Allah berfirman dalam surat Al-Mu’minun ayat 68:
أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا۟ ٱلْقَوْلَ أَمْ جَآءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ ءَابَآءَهُمُ ٱلْأَوَّلِينَ
Artinya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?
Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir pada ayat di atas, Sekretaris Dewan Hisbah Persatuan Islam (Persis), KH Zae Nandang menjelaskan, Al-Qur'an merupakan kitab suci pedoman umat muslim yang harus dipahami isi dan maknanya. Agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia.
"Tidak adanya kemajuan memelajari secara bertahap kepada Quran yang Agung ini, dan mempelajarinya berulang, tadabur sehingga didapatkan pelajaran yang berharga," jelas KH Zae Nandang dalam kajianya di kanal Persis TV, sikutp Selasa (18/10/2022).
Baca Juga: Tafsir: Syariat Islam Sempurna, Tidak Perlu Ditambah dan DikurangDia menjelaskan, Allah SWT menurunkan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW di tengah bangsa kafir Quraisy. Namun mereka enggan untuk mentadaburi isi Al-Qur'an, sehingga menyebabkan kekeliruan yang mengakibatkan tidak percaya kepada Rasul dan Allah SWT.
"Mestinya mereka bersyukur, karena itu ketika menolak ini adalah satu kesalahan besar," kata Sekretaris Dewan Hisbah Persis itu.
Kemudian, lanjut dia, ada pula orang-orang kafir Quraisy yang menjadi pengikut dan sahabat Nabi SAW. Mereka adalah golongan orang-orang yang terselamatkan di dunia maupun akhirat.
"Maka selayaknya mereka menerima nikmat yang besar itu, bukan menolaknya dan bersyukur kepada Allah, belajar memahami Al-Qur'an," ujarnya.
(zhd)