Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 05 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Benarkah Orang Tua Akan Menanggung Dosa Anaknya? Begini Penjelasan Ulama

Muhajirin Selasa, 18 Oktober 2022 - 19:03 WIB
Benarkah Orang Tua Akan Menanggung Dosa Anaknya? Begini Penjelasan Ulama
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID - Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap anaknya di dunia hingga akhirat. Terkait tanggung jawab di akhirat, benarkah orang tua akan ikut menanggung dosa anak?.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, menjelaskan, tidak selamanya dosa seorang anak ditanggung oleh orang tua di akhirat kelak. Ini berkaitan dengan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak.

Orang tua memiliki kewajiban menanamkan adab, akhlak, dan syariat Islam kepada anak sejak dini. Tanggungjawab ini dititikberatkan kepada ayah sebagai pemimpin rumah tangga dan ibu sebagai madrasah pertama bagi anak.

Baca Juga: Anak Telanjur Membangkang, Begini Cara Didik dalam Islam

Dosa anak akan ditanggung orang tua jika tidak pernah diajari syariat Islam. Buya Yahya mencontohkan ibadah salat. Orang tua berkewajiban mengajari anak salat. Jika tidak pernah diajari, maka dosa anak meninggalkan salat ditanggung orang tua.

“Yang dimaksud dengan menanggung dosa itu adalah di dalam pendidikan, sehingga tidak ada dosa tanggung-menanggung. Lantas mengapa dosa anak tersebut ditanggung ibunya? Karena anaknya tidak pernah salat, sebab ibunya tak pernah mengajarinya,” kata Buya Yahya di Al Bahjah TV, Selasa (18/10/2022).

Dalam Islam, dosa sebenarnya ditanggung masing-masing. Jika anak sudah baligh dan melakukan dosa, maka dosa itu ditanggung sendiri. Bukan ditanggung orang tua.

Baca Juga: Metode Parenting ala Cak Nun, Perhatikan 4 Pola Asuh Ini

“Dengan catatan, orang tuanya sudah mendidik, orang tua sudah mengantarkan ke tempat yang baik. Cuma kalau orang tuanya tidak pernah mendidik, dosanya numpang,” kata Buya Yahya.

Jika orang tua sudah mendidik anak dengan baik, namun sang anak tetap bermaksiat, maka orang tua sudah lepas tanggung jawab. Dosa tetap ditanggung oleh sang anak.

“Ada orang mendidik anaknya sudah benar, tapi anaknya masih badung, maka orang itu enggak dosa karena sudah mendidik dengan maksimal. Anaknya masih melakukan keharaman, enggak dosa, karena sudah mendidik,” ujar Buya Yahya.

Baca Juga: Calon Ayah Wajib Mencari Ibu yang Baik untuk Anaknya Kelak

Sementara Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa dalam Islam, seorang hamba tidak akan menanggung dosa hamba yang lain. Setiap orang bertanggung jawab masing-masing di hadapan Allah SWT. Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 164:

قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.”

Akan tetapi, kata Prof Quraish Shihab, dalam soal ini, ada beberapa pengecualian. Jika sang anak menjadi bejat dan berbuat aneka maksiat karena tidak dididik oleh orang tuanya.

Baca Juga: 3 Kewajiban Orang Tua kepada Anak, Beri Nama Baik hingga Benahi Akhlak

Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa seorang ayah dihalangi masuk ke surga lantaran pengaduan anaknya yang durhaka. Sang anak meminta keadilan Allah swt sambil berkata, “Ya Allah, aku meminta keadilan-Mu atas orang zalim ini karena dia tidak mendidikku di waktu kecil (sehingga aku menjadi bejat)”.

“Adapun jika orangtua itu pada masa hidupnya telah mendidik anaknya dengan baik sesuai dengan kemampuannya, tentu saja, dia tidak berdosa dan tidak akan disiksa,” jelas Quraish Shihab.

Akan tetapi, menurut Quraish Shihab, boleh jadi hati orang tua risau atau merasa dipermalukan di hadapan orang-orang lain yang juga telah meninggal dunia, akibat kelakuan anaknya itu, karena yang kini telah meninggal dunia dapat memandang ke dunia melalui jendela alam barzakh.

Dalam konteks inilah Nabi Muhammad SAW berpesan, “Janganlah mempermalukan keluarga kamu yang telah wafat dengan keburukan amal perbuatan kamu.”

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 05 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)