LANGIT7.ID - , Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai kontrol Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (
BPOM) terhadap izin edar suatu produk tidak efektif. Sebab, masih banyak ditemukan kadar
etilen glikol (EG) dan
dietilen glikol (DEG) berlebih pada sejumlah
obat sirop untun anak.
Diketahui, EG dan DEG diduga menjadi penyebab utama meningkatnya kasus
gangguan ginjal akut misterius yang menyerang anak Indonesia. Oleh karena itu, YLKI mendesak berbagai pihak untuk mengusut tuntas kasus dari hulu hingga hilir.
Baca juga: BPOM Bakal Pidana Dua Industri Farmasi Diduga Penyebab AKI“Dari pasokan bahan baku obat, proses produksi, hingga
pemasaran. Kasus masif ini membuktikan bahwa mekanisme pengawasan (
regular inspection) pada aspek
pre market dan
post market control Badan POM tidak efektif,” tulis keterangan YLKI melakui akun Twitter resminya, @YLKI_ID, dikutip pada Selasa (25/10/2022).
YLKI meminta
Presiden Joko Widodo mengevaluasi kinerja BPOM dan pihak terkait lainnya untuk menangani kasus penyakit misterius ini.
“Juga pengawasan oleh produsen dalam proses produksinya, sebab proses pembuatan obat mustinya mengacu pada aspek CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Terjadinya cemaran itu juga membuktikan bahwa
quality control di internal manajemen produsen obat tidak dilakukan,” cuit YLKI.
Dalam hal ini, YLKI menegaskan, proses pengusutan harus dilakukan tim independen agar terungkap pihak yang wajib bertanggung jawab.
Baca juga: BPOM: 133 Obat Sirop Aman Dikonsumsi, Ini Daftarnya“YLKI mendesak ada investigasi oleh tim independen, dari hulu hingga hilir agar persoalannya menjadi tuntas dan pihak mana yang harus bertanggungjawab, baik dari sisi perdata, pidana, dan administrasi. Pihak regulator, seperti Badan POM dan Kemenkes, dan juga dari sisi operator yakni produsen farmasi, semuanya harus bertanggung jawab,” tutup YLKI.
(est)