LANGIT7.ID, Jakarta - Problematika kehidupan zaman sekarang semakin kompleks. Setiap orang terutama anak muda terpapar bahaya di mana-mana. Sejatinya, keluarga ideal menjadi benteng yang kokoh untuk berlindung dari serangan pemikiran-pemikiran destruktif.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat, Ustaz Akmal Sjafril mengatakan, masalah utama dari masa ke masa adalah kerusakan pemikiran yang erat kaitannya dengan perang pemikiran sehingga mempengaruhi hasil pemikiran yang salah.
"Perang pemikiran makin kesini makin tampak nyata, saya rasa kita bisa melihat dengan nyata apa yang terjadi dengan sekarang," kata Ustaz Akmal dalam kajian Ngaso (Ngaji Sore) secara virtual bertajuk '
Tantangan Rumah Tangga Masa Kini: Membentuk Benteng Terkuat dalam Menghadap Problematika Kontemporer', Senin (31/10/2022) malam.
Baca Juga: Pentingnya Belajar Agama Sekeluarga di Tengah Kesibukan KerjaDia menjelaskan, perang pemikiran yang mengakibatkan kerusakan pemikiran akan terus terjadi bahkan semakin kencang hingga akhir zaman. Bahkan hal tersebut telah terjadi sejak dulu, tepatnya ketika Nabi Adam AS digoda Iblis untuk memakan buah khuldi.
Ustaz Akmal mencontohkan dari kisah Nabi Adam AS tersebut, sebenarnya kesalahan yang dibuat Nabi Adam AS bukan murni dari dirinya sendiri, melainkan pengaruh eksternal yakni sang iblis merayu Nabi Adam untuk memakan buah khuldi agar kekal di surga.
"Jadi dia memanfaatkan keinginan Nabi Adam yang sebenarnya fitrah, kalau saja iblis ini mengatakan 'hai Adam kita murtad saja yuk, saya yakin Nabi Adam tidak akan mempertimbangkan itu'," jelasnya.
Di zaman sekarang yang semakin modern, kata dia, kian banyak tipu daya yang bertebaran di internet terutama pada media sosial. Tak sedikit juga anak-anak terpengaruh perang pemikiran yang mengakibatkan kerusakan dalam berpikir.
Baca Juga: Efek Buruk Minum Sambil Berdiri, Waspadai Gangguan GinjalMaka dari itu, keluarga memiliki peran penting dalam memproteksi si buah hati dengan memiliki hubungan yang terjaga. Terlebih keluarga harus bisa menjadi benteng kokoh dalam menghadapi problematika kontemporer.
Hal ini perlu dilakukan agar sang anak terbuka kepada orang tuanya dalam bertanya suatu hal, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pola pikir menyimpang yang mereka temukan dari internet ataupun pihak eksternal lainnya.
"Jadi memang tipuan-tipuan semacam ini yang paling bahaya karena dia mengganggu cara kita berpikir, mengganggu pemikiran kita yang lurus jadi salah berpikir," tuturnya.
(zhd)