LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an Lembaga Pembinaan Pendidikan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA) Narukan Rembang,
KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha, menjelaskan, seorang muslim boleh berteman atau berinteraksi dengan
nonmuslim untuk kepentingan muamalah.
"Di dunia berteman dengan kafir tidak harbi itu boleh, sebab, orang benar-benar terpisah dari orang kafir itu di akhirat. Makanya, ulama-ulama tidak mengharamkan berteman dengan orang kafir, yang penting jaga imannya,” kata
Gus Baha di kanal Santri Gayeng, Kamis (3/11/2022).
Baca Juga: Bolehkah Muslim Takziah kepada Nonmuslim?
Gus Baha menjelaskan, Allah memisah orang beriman dan orang kafir saat di akhirat kelak. Maka, di dunia tidak ada larangan untuk berinteraksi dengan nonmuslim. Ini berdasarkan Surah Yasin ayat 59, Allah Ta’ala berfirman:
وَامْتَازُوا الْيَوْمَ اَيُّهَا الْمُجْرِمُوْنَ
“Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa!” (QS. Yasin: 59).
aat di akhirat orang-orang kafir harus benar-benar terpisah dari orang kafir, karena alamatnya berbeda. Kalau di dunia kan ada kebutuhan bertransaksi (muamalah). Asal di dunia pasti ada interaksi sosial,” ujar Gus Baha.
Baca Juga: Cara Islam Melindungi Non-Muslim, Diberi Jaminan Kenyamanan dan Keamanan
Dalam tausiah yang lain, Gus Baha menjelaskan, di akhirat kelak, ahli surga duduk santai sambil bercengkrama. Mereka bercerita kehidupan sesame di dunia. Ada yang mengingat teman mereka yang tidak bertuhan dan tidak beriman kepada Allah Ta’ala.
“Masak kita sudah jadi debu dan tulang-belulang, kita akan dibalas atas amal-amal kita? ,” ujar Gus Baha menirukan ejekan teman si ahli surge yang tidak bertuhan. Hal ini sesuai dengan Surah Ash-Shaffat ayat 53, Allah berfirman:
“Apakah ketika kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembelasan?”
Baca Juga: Ada Pahlawan Non-Muslim, Bagaimana Cara Mendoakan Mereka?
Dialog itu menjadi landasan orang Islam diperbolehkan berteman dengan nonmuslim, bahkan atheis sekalipun. Itu menunjukkan fleksibilitas Islam yang memperbolehkan seorang muslim bisa bergaul dengan siapapun, asal bisa menjaga iman.
“Ini dapat menjadi catatan bahwa orang shalih itu boleh berteman dengan orang yang zalim, buktinya orang yang masuk surga, punya teman yang zalim ketika hidup di dunia,” kata Gus Baha.
Mengutip aboutislam.net, ulama Kanada Syekh Ahmad Kutty, menjelaskan, Al-Qur’an dan hadits tidak melarang umat Islam bekerjasama dengan semua orang dalam ranah muamalah. Terlepas dari perbedaan keyakinan atau agama serta menjaga hubungan baik dan berbudi luhur.
Baca Juga: Mendudukkan Istilah Non-Muslim Berdasarkan Al-Qur'an
Maka itu, Nabi Muhammad SAW menyatakan, “Jika orang Quraisy memanggil saya untuk menghormati hubungan kekerabatan dan menghormati yang suci, saya akan segera bergabung dengan mereka.”
Rasulullah SAW juga bersabda:
لَقَدْ شَهِدْت فِي دَارِ عَبْدِ اللّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبّ أَنّ لِي بِهِ حُمْرَ النّعَمِ وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الْإِسْلَامِ لَأَجَبْت
“Saya menghadiri sebuah perjanjian perdamaian di rumah Abdullah ibn Judan untuk kembali berdamai dan datang untuk membantu yang tertindas. Jika saya dipanggil untuk itu dalam Islam, saya akan bergegas untuk bergabung!” (Ibnu Hisyam: 1/133).
(jqf)