LANGIT7.ID, Jakarta - Allah Ta'ala menetapkan keesaanNya bahwa Allah yang menciptakan semua makhluk di muka bumi ini dan memilikinya. Hal tesebut menunjukan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Dia.
Sebagaimana dalam Surat Al-Mu'minun ayat 84-90 Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ لِمَنِ الأرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89) بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِالْحَقِّ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (90)
Artinya: Katakanlah, "Kepunyaan siapakah bumi dan semua yang ada padanya jika kalian mengetahui?” Mereka akan menjawab, "Kepunyaan Allah.” Katakanlah, "Maka apakah kalian tidak ingat?” Katakanlah, "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arasy yang besar?” Mereka akan menjawab, "Kepunyaan Allah.” Katakanlah, "Maka apakah kalian tidak bertakwa?” Katakanlah, "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedangkan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kalian mengetahui?” Mereka akan menjawab, "Kepunyaan Allah.” Katakanlah, "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?” Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir, Sekretaris Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), KH Zae Nandang menjelaskan kandungan ayat tersebut menyebutkan tiga model kaum musyrikin.
Pertama mereka kaum musyrikin tidak percaya adanya Allah. Kedua, kafir musyrik yang percaya adanya Allah tetapi percaya ada Tuhan selain Allah kemudian mereka menyembahnya serta dianggap Tuhan.
"Dan ketiga ada yang mengakui bahwa Allah Ta'ala yang menciptakannya kemudian mereka menyembah patung berhala dan lainnya, alasan mereka bukan menyembah berhala akan tetapi hanya sebagai perantara saja," kata Kiai Zae Nandang dalam tayangan YouTube Persis TV, dikutip Rabu (9/11/2022).
Menurut dia, mereka tidak menyembah berhala tetapi menjadikannya sebagai perantara dengan alasan, mereka beribadah kepada Allah tetapi melalui perantara patung-patung berhala dan lainnya.
Baca Juga: 4 Etika Berdagang Ala Nabi Syuaib AS agar Diberkahi Allah SWT"Itu di antaranya kelompok yang lain di antara orang-orang kafir musyrik. Jadi mereka mengakui Rabb itu adalah Allah hanya saja tidak mengakui sebagai illah saja. Ada istilah tauhid rububiyah tapi tidak bertauhid uluhiyah," tuturnya.
Kiai Zae Nandang menyampaikan penciptaan manusia tidak dibantu yang lain dalam mengolahnya dan kerajaannya untuk menunjukan kepada umatNya sesunguhnya tidak ada Tuhan kecuali Dia, dan tidak sepatutnya ibadah kecuali kepada Allah.
"Dan untuk ini Allah Ta'ala juga berfirman kepada Rasulnya, Muhammad Saw agar rasul itu berkata kepada orang-orang musyirk yang menyembah dan mengibadahi bersama Allah kepada yang lainnya," ujarnya.
Menurut dia, mereka mengakui Allah sebagai rububiyah dan mengakui dalam mengatur alam ini tidak serikat baginya. "Jadi mereka mengakui hanya Allah yang menciptakan dan mengatur tetapi bersama dengan ini mereka telah musyrik bersama Allah itu dalam penyembahan," tuturnya.
"Jadi kalau dalam rububiyah mereka mengakui hanya Allah, tetapi dalam pengibadahan mereka menganggap ada yang lain nah ini menjadi model yang lainnya itu," katanya.
Selanjutnya, mereka juga mengetahui bahwa Allah Ta'ala yang menciptakan gunung, bintang, dan lainnya. Sehingga mereka hanya memiliki tauhid rububiyah tidak bertauhid uluhiyah.
"Mereka juga mengakui bahwa yang mereka ibadahi itu bukan khaliq tidak menciptakan sesuatu, dan yang menciptakan hanyalah Allah dan tidak memiliki sesuatu dan mereka mengatahui bahwa yang disembah oleh mereka juga tidak memiliki kewenangan untuk mengatur alam ini," ujarnya.
Kendati demikian, cara mereka mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala itu dengan perantara menyembah berhala untuk kemudian dianggap sebagai Tuhan. Hal tersebut juga seperti yang diterangkan dalam surat Az-zumar. "Kami tidak menyembah mereka kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk lebih dekat lagi itu alasannya," katanya.
Kiai Zae Nandang menambahkan dalam pandangan syariat Allah tidak ada keterangan seperti itu, sebab beribadah langsung saja kepada Allah. Sehingga Allah tidak menetapkan adanya perantara dalam beribadah.
"Adanya perantara melalui makhluknya itu, cara tersebut disebut
syirkun atau termasuk syirik dan termaktub dalam Surat Az-zumar," ujarnya.
(zhd)