LANGIT7.ID, Jakarta - Dalam ajaran agama Islam, setiap mukmin wajib mengimani akan hadirnya hari kiamat atau hari akhir. Ketika itu seluruh manusia berkedudukan sama, baik rakyat jelata ataupun orang-orang besar. Serta setiap anggota keluarga akan sibuk dengan diri masing-masing pada hari akhir.
Seperti yang tertuang dalam surat Al-Mu’minun ayat 101, Allah SWT berfirman:
فَإِذَا نُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَلَآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَآءَلُونَ
Artinya: Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
Merujuk tafsir Ibnu Katsir pada ayat di atas, Sekretaris Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), KH Zae Nandang mengatakan, ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap mukmin wajib mengimani akan datangnya hari akhir. Kemudian nasab-nasab pada hari itu tidak akan ada artinya, sebab semua manusia di mata Allah itu sama.
"Orang tua dengan anak, dengan saudara, dengan istri, dengan suami dan seterusnya. Nasab-nasab itu sudah tidak bermanfaat lagi," kata Kiai Zae Nandang dalam kajiannya dikutip di kanal Persis TV, Jumat (2/12/2022).
Baca Juga: Benarkah Seseorang Bisa Masuk Surga Meski Tidak Pernah Salat?Dia melanjutkan, seluruh manusia yang dibangkitkan akan sibuk dengan dirinya sendiri. Begitu pula dengan tangisan dan kesedihan yang dikeluarkan orang-orang pada hari akhir sudah tidak berarti lagi sebab itu merupakan hari pembalasan akan perbuatan manusia semasa hidupnya.
"Orang masing-masing sibuk dengan dirinya, tidak akan menoleh ke yang lain walaupun terhadap keluarganya. Tidak lagi saling memperhatikan," jelasnya.
Begitu pun, lanjut Kiai Zae Nandang, dengan kerabat-kerabat semasa hidupnya tidak akan saling memerhatikan satu sama lain. Meski mereka saling melihat akan tetapi tetap sibuk dengan dirinya masing-masing di hari akhir. Setiap individu akan sangat khawatir dengan keadaannya.
Adapun orang-orang yang dipandang kedudukannya tinggi saat mereka masih hidup di muka bumi akan sama khawatirnya dengan yang lain. Kemudian orang-orang besar dengan status sosial yang tinggi tidak akan mengemban apapun selain membawa amal ibadah dan perbuatan baiknya untuk di timbang dengan perbuatan buruk yang pernah dia lakukan.
"Dan ia tidak akan memikul beban yang lain setimbang sayap lalat pun. Ini menunjukan benar-benar sudah bertanggung jawab masing-masing," ujarnya.
Baca Juga: Penjelasan Ustaz Amin Terkait Jejak Ashabul Kahfi di Yordania(zhd)