LANGIT7.ID, Jakarta -
Sex-Ed Researcher and Educator, Zhafira Aqyla, mengatakan, seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan seksualitas, banyak orang yang mulai memahami perbedaan antara seks dan seksualitas.
Zhafira Aqyla, memaparkan bahwa pendidikan seksualitas tidak hanya terfokus pada cara berhubungan seksual yang dilakukan secara bertanggung jawab. Tetapi, pendidikan seksualitas juga mencakup tema-tema yang lebih luas seperti fitrah manusia (gender), perlindungan diri dari kejahatan seks, budaya di tengah masyarakat, hingga kesehatan reproduksi.
”Defenisi seksualitas itu lebih menyeluruh. Jadi, kita membahas tentang fitrah manusia atau sekarang lebih dikenal sebagai gender. Juga mempelajari tentang bagaimana cara melindungi diri dari kekerasan. Kita semua juga berbicara tentang budaya, apa sih yang membedakan norma-norma di masyarakat dari segi agama maupun budaya,” kata Zhafira dalam webinar Ruang Rasa Ibu yang diadakan Sekolah Rumah Tangga, dikutip Selasa (7/2/2023).
Baca Juga: Edukasi Seks dalam Islam Harus Tumbuhkan Cinta Anak pada Allah
Namun sayang, banyak orang yang masih salah paham tentang pendidikan seksualitas. Mereka beranggapan, pendidikan seksualitas hanya mengajari cara berhubungan seks. Padahal, pendidikan seksualitas membahas lebih dari itu.
“Tapi sayangnya untuk negara-negara seperti Indonesia atau untuk banyak sekali keluarga muslim, yang karena belum pernah mendapatkan pendidikan terkait ini akhirnya mereka salah tangkap dan akhirnya ‘ini mah ngajarin tentang cara berhubungan seks, dan tidak sepantasnya diajarkan ke anak’,” kata Zhafira.
Zhafira menjelaskan, Islam sebenarnya sudah punya kurikulum tersendiri tentang pendidikan seksualitas. Hanya saja, banyak orang menganggap pendidikan seksualitas hanya berkaitan dengan hubnungan seks saja.
Baca Juga: Jangan Sekadar Belajar, Kejar Berkah Ilmu agar BermanfaatDi sisi lain, lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan Unesco juga telah membuat kurikulum pendidikan seksualitas. Namun, tema besar yang membedakan dengan kurikulum pendidikan seksualitas dalam perspektif Islam adalah dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah.
“Yang membedakan dengan umat Islam, adalah dalil-dalil Islam itu sendiri. Kalau dalam pendidikan seksualitas yang umum tidak ada unsur-unsur menjaga jarak antara laki-laki dan perempuan, menutup aurat, menjaga pandangan, karena memang tidak termasuk nilai secara umum,” ucapnya.
Dalil Islam membedakan antara pendidikan seksualitas dari kurikulum umum. Kurikulum pendidikan seksualitas dalam kurikulum umum tidak mencakup unsur-unsur ajaran-ajaran dasar dalam Islam seperti jaga jarak antara laki-laki dan perempuan, seperti menutup aurat, menundukkan pandangan, hingga cara interaksi antara laki-laki dan perempuan di tempat umum.
Baca Juga: Drakor Crash Course In Romance Perlihatkan Realita Demam Pendidikan KorselDalam Islam, pendidikan seksualitas harus sesuai syariat dan bukan hanya sekadar seksual yang aman, tetapi juga sesuai dengan aturan yang ditentukan oleh agama.
”Kalau membicarakan hubungan seksual, di kurikulum umum, mereka membahasnya seperti cara menghindari kehamilan atau misalnya menghindari penyakit menular seksual ya berarti menggunakan kontrasepsi,” ungkap Zhafira.
Secara keseluruhan, pendidikan seksualitas sangat penting untuk membantu kita memahami tentang cara hidup yang sehat dan bertanggungjawab dalam hal seksualitas. Terlepas dari pendidikan yang diterima, penting bagi kita untuk memahami dan memperhatikan dalil-dalil yang ditentukan agama.
Baca Juga: Yuk Ayah Bunda, Sembuhkan Luka Pengasuhan Sambil Mengasuh Anak”Dalam Islam bukan hanya hubungan seksual yang aman, tapi juga sesuai syariat. Jadi, itu pembeda besar adalah dalil Islam,” pungkas Zhafira.
(jqf)