LANGIT7.ID, Jakarta - Dalam dunia yang serba maju dan memacu prestasi, banyak orang melupakan keberkahan ilmu. Padahal, dalam sudut pandang Islam, mencari ilmu bukan sekadar prestasi, tetapi juga memiliki keberkahan.
Seperti Sabda Rasulullah SAW, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi).
Guru Ngaji Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Dr. Fahruddin Faiz, menjelaskan, keberkahan ilmu sangat penting bagi setiap individu. Dalam Islam, ilmu dianggap sebagai sumber kebahagiaan hidup dan kunci Kebahagiaan hakiki.
Baca Juga: Yuk Ayah Bunda, Sembuhkan Luka Pengasuhan Sambil Mengasuh AnakMelalui keberkahan ilmu, seseorang dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan yang luas, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mendapatkan keberkahan ilmu, di antaranya:
1. Niat Hanya untuk Allah Niat dalam menuntut hanya untuk Allah (
Lillahi ta’ala). Itu karena keberkahan ilmu bersumber dari Allah, maka niat pun harus disandarkan kepada-Nya. Belajar ataupun mengajar tidak boleh sekadar menggugurkan kewajiban atau sekadar untuk kebutuhan finansial ekonomi.
Baca Juga: Ini Cara dan Syarat Nikah Via Sambungan Telepon“Tapi memang ini perjalanan di dunia ilmu niatnya
lillahi ta’ala. Barokahnya ilmu itu dijamin langsung oleh Allah,” kata Faiz dalam webinar Al Firdaus
World Class Islamic School yang diikuti
Langit7.id, dikutip Sabtu (4/1/2023).
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
“Barokah-barokah yang lain tidak tegas disebut, tapi untuk ilmu disebut tegas. Maka ayo, nawaitu jangan meleset. Baik sebagai pengajar maupun belajar,” kata Faiz.
Baca Juga: Utang Piutang dalam Islam, Boleh Asal Tak Main-main2. Badlul Juhdi: Jihad-Ijtihad-mujahadahSetelah mempunyai niat yang lurus, maka selanjutnya seorang muslim dituntut untuk bersungguh-sungguih. Seorang muslim memberikan best version sampai batas kemampuan.
“Jangan tanggung-tanggung. Harus total. Berikan yang terbaik, tidak usah terlalu perhitungan.
Badlul juhdi akan mengundang hadirnya barokah. Kalau bahasa saya, jihad-ijtihad, mujahadah,” kata Faiz.
Dia menjelaskan, badlul juhdi berarti bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Begitu pun dalam mengajar. Tidak boleh bermalas-malasan, karena Allah sudah menyediakanj ganjaran terbaik berupa derajat tinggi.
Baca Juga: Program Kemandirian Pesantren 2023: Pembentukan Community Economy Hub“Jihad itu kerja keras, ijtihad itu kerja cerdas, dan mujahadah itu sambil berdoa dan mendekat kepada Allah,” ujar Faiz.
3. Khidmah: Adab kepada Apapun yang Berhubungan dengan IlmuKhidmah berarti menghormati, menghargai, mengagungkan, dan patuh. Makanya ada istilah
khadim yang berarti pelayan. Seorang penuntut ilmu harus memposisikan diri sebagai “pelayan” kepada apapun yang berhubungan dengan ilmu.
“Jadi, semangatnya semangat
khidmah, bukan semangat mencari keuntungan. Misal jadi guru untuk melayani anak-anak yang hendak mencari ilmu,” tutur Faiz.
Baca Juga: 5 Doa Aktivitas Sekolah, Yuk Ajak Si Kecil Hafalkan Bun!4. Jangan Meremehkan IlmuPenuntut ilmu ataupun pengajar tidak boleh meremehkan ilmu. Selain itu, tidak boleh pula menunda untuk menjalankan ilmu dan tidak boleh mencari alasan untuk tidak menjalankan ilmu, serta tidak menolak faidah, kebenaran, juga kebaikan ilmu yang didapat.
“Ilmu itu untuk dijalankan demi hidup yang lebih baik. Maka jalankan semampu kita. Kita belajar semampu kita, berkhidmah semampu kita, dan kita menjalankan ilmu juga semampu kita,” ujar Faiz.
Jika hari ini barus bisa mengamalkan 10% dari ilmu yang didapat, maka lakukan dengan sungguh-sungguh. Amalkan ilmu tersebut sampai bisa mencapai 100 persen dan tidak boleh ditunda-tunda.
Baca Juga: Sampai Usia Berapa Anak Boleh Mandi Bareng Orang Tua?“Niat baik apapun, kesadaran apapun kan sebenarnya sumbernya dari Allah, kalau ada terbetik keinginan berbuat baik, itu berarti anda sedang mendapatkan cahaya dari Allah. Jangan ditawar, ditolak, ditunda. Kalau ditunda, lama-lama Allah Sudah tidak memberikan cahaya-Nya lagi,” ujar Faiz.
5. Tidak Mencampur Ilmu dengan MaksiatSeorang penuntut ilmu tidak boleh mencampur ilmu dengan maksiat. Semakin banyak tercampur, semakin batin seseorang tidak jernih. Ilmu adalah cahaya. Ilmu itu jernih.
“Kalau masuk di dalam diri kita yang tidak jernih, dia bisa ketularan tidak jernih. Susu itu menyehatkan tapi kalau dimasukkan ke dalam gelas beracun, dia akan jadi susu yang beracun,” ungkap Faiz.
Baca Juga: Benarkah Umat Islam Dilarang Puasa Hari Jumat? Begini Penjelasan UASJiwa harus bersih dari dosa-dosa maksiat. Hal ini perlu dilakukan mendapatkan keberkahan ilmu dari Allah. Jiwa yang kotor akan membuat ilmu yang masuk ke dalam dada tidak berkah.
“Diri kita kalau masih kotor banyak maksiatnya, belajar mungkin masuk, membaca mungkin paham, tetapi ilmu yang masuk yang dipahami itu akan terkontaminasi oleh jiwa kita yang kotor yang masih banyak dosa. Akhirnya, banyak orang yang ilmunya banyak, tapi manfaat dan maslahat dari dirinya kecil. Bahkan mungkin tidak terasa,” kata Faiz.
6. Doa, Mendoakan dan Minta DidoakanDoa adalah senjata seorang muslim. Maka itu, perlu berdoa, mendoakan, dan minta didoakan. Tidak boleh egois dan hanya mendoakan diri sendiri. Perlu mendoakan teman-teman, sahabat, keluarga, guru, dan semua umat Islam.
Baca Juga: AQLIS dan GEMA Cita Beri Beasiswa Rp3,4 M untuk Anak TKI di Malaysia“Jangan sombong juga, ayo minta didoakan dari orang yang lebih dekat kepada Allah. Kita tidak tahu doa itu dikabulkan oleh Allah dari mulut yang mana. Kita juga jangan mahal-mahal malas mendoakan sahabat, saudara, murid-murid, teman-teman kita,” pungkas Faiz.
(jqf)