LANGIT7.ID, Jakarta -
Gen Z sangat dekat dengan teknologi dan era digital, namun sayang, mereka bisa terdampak perilaku negatif jika tidak mendapatkan pendidikan tangguh sejak dini. Tapi dengan bimbingan Al-Qur’an, orangtua masih memiliki kesempatan membentuk generasi tangguh dan berahlak karimah.
Salah satu contoh pengasuhan yang bisa dicontoh para orang tua adalah kisah Nabi Yusuf AS yang termaktub dalam Surah Yusuf. Ada banyak intisari dari surah tersebut yang bisa dijadikan rujukan dalam mendidikan anak.
Pakar Parenting, Ustaz Bendri Jaisyurrahman, menjelaskan, kisah Nabi Yusuf bisa menjadi potret pengasuhan agar anak menjadi tangguh di era moderen. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
Baca Juga: Orang Tua Arsitek Peradaban, Harus Didik Anak Jadi Manusia Terbaik1. Bermula dari ImanNabi Ya’qub berhasil mendidik Yusuf sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Ta’ala. Itu pula yang membuat Yusuf tegar dan tabah menghadapi semua ujian yang menimpa. Mulai dari perlakuan saudara-saudaranya sampai hukuman dari raja Mesir kala itu.
“Kekuatan seseorang itu ditentukan oleh kekuatan iman,” kata Bendri dalam webinar Fatherman yang diikuti
Langit7.id, dikutip Senin (13/2/2023).
Allah membuat perumpamaan dalam Al Qur’an tentang kekuatan iman, tepatnya dalam Surah Ibrahim ayat 24. Allah Ta’ala berfirman:
Baca Juga: Psikolog: Suami Berperan Penting Obati Luka Pengasuhan Istriاَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
“Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat, dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (QS. Ibrahim: 24)
كَلِمَةً طَيِّبَةً dalam ayat di atas adalah iman. Allah mengisyaratkan iman seperti pohon yang baik, akar menghujam ke bumi dan dahan menjulang ke langit. Orang beriman akan memiliki karakter yang kokoh, kuat seperti akar pohon besar yang menghujam ke dalam bumi, dan tidak mudah digoyang.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih Sekolah, Perhatikan 5 Hal iniOrang beriman juga seperti dahan yang menjulang ke langit. Dia memiliki cita-cita tinggi dan selalu menjadikan Allah sebagai motivasi dalam bertindak maupun berucap.
“Makanya orang punya iman kuat maka akan memiliki pribadi kokoh tidak mudah digoyang seperti akar yang menghujam ke bumi. Dia akan menjulang ke langit, dia akan memiliki visi yang tinggi. Termasuk cita-cita besar. Jadi, iman ini akan memberikan pengaruh yang luar biasa,” ucap Bendri.
2. Menguatkan Ikatan HatiZaman boleh berubah, tapi ikatan hati tidak boleh berubah. Ikatan hati salah satu yang menjaga anak di tengah kerusakan zaman. Ini juga di antara problem penting di era digital. Masalah utama anak bukan gawai, tapi ikatan hati yang rusak. Tidak ada ikatan hati antara anak dan orang tua.
Baca Juga: Tips Memilih Sekolah yang Aman dan Ramah Anak“Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya.” (Majmu’ Al Fatawa, 11/208)
“Hati yang terikat mampu membuat akal anak untuk tunduk kepada orangtuanya. Anak butuh interaksi dengan orangtua seperti pelukan, bukan dikasih gawai. Sehingga yang terbayang dalam benak anak, ‘kalau aku sedih, aku dikasih tontonan upin-ipin’,” kata Bendri.
Maka itu, orang tua harus melakukan pendekatan-pendekatan emosional untuk mengikat hati anak. Misalnya saat anak sedih, momen memahami kesedihan anak adalah bentuk parenting. Pada saat itu anak menginginkan interaksi personal atau kehadiran fisik.
Baca Juga: Yuk Ayah Bunda, Sembuhkan Luka Pengasuhan Sambil Mengasuh Anak“Ini juga problem saat ini, karena ikatan hati yang rusak. Dampak ikatan hati ada dua. Pertama, orang tua menjadi rujukan. Kedua, tidak ada privasi dengan orang tua,” ujar Bendri.
3. Belajar dari Nabi Yusuf dalam Melewati Ujian SyahwatOrang tua harus mendidik anak agar bisa melewati ujian syahwat pada era saat ini. Apalagi keterbukaan informasi seolah tanpa batas. Anak bisa mengakses apa saja melalui gadget. Maka itu, orangtua berperan penting dalam menjaga anak dari informasi-informasi berbau negatif. Dalam hal ini, kisah Nabi Yusuf sangat menginsiprasi.
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰى بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
Baca Juga: Sampai Usia Berapa Anak Boleh Mandi Bareng Orang Tua?"Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih." (QS. Yusuf: 24)
Nabi Yusuf bisa terhindari dari godaan syahwat melalui sosok ayah yang hadir sebagai penyelamat. Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Abus Syekh meriwayatkan dari Qotadah dalam penggalan ayat (ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰى بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ) dia berkata:
Yusuf melihat tanda kekuasaan Rabb-nya, yang dengan izin-Nya, Allah jauhkan ia dari maksiat; telah disampaikan kepada kami bahwa muncul wajah Ya’qub yang sedang menggigit keduanya jarinya seraya berkata:
Baca Juga: Cara Didik Anak agar Hilangkan Kebiasaan Suka Teriak“Yusuf! Apakah kau hendak mengerjakan amalnya orang-orang yang bodoh, padahal dirimu telah tercatat sebagai salah satu nabi!”
Maka itulah petunjuk yang dimaksud dan Allah mencabut setiap syahwat yang ada di setiap persendiannya. (Adhwaul Bayaan - Syaikh Amin Asy Syinqithi)
4. Anak tidak Menyimpan Rahasia dari Orang TuanyaSaat masih kecil, Yusuf menceritakan mimpinya kepada Nabi Ya’qub. Ini menjadi contoh sederhana keterbukaan anak kepada seorang ayah. Anak tidak merasa risih saat harus curhat kepada ayah.
Baca Juga: Tips Menyusui Anak Sesuai Tuntunan Al-Quranاِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ
"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS Yusuf: 4)
“Kalau anak tertutup itu merupakan musibah dalam pengasuhan. Kalau ktia berhasil membuat anak banyak bicara dan bercerita kepada kita adalah modal besar untuk kita mendidik mereka di zaman
now. Kenapa? Kalau anak berbicara hal negatif sekalipun, itu lebih baik daripada bercerita kepada orang lain,” ucap Bendri.
Baca Juga: Fenomena Asusila Anak, Pakar: Orang Tua Wajib Beri Perlakuan KhususPara sahabat Rasulullah bisa jadi umat terbaik karena tidak berdiam diri saat menghadapi situasi yang sulit. Anak yang saleh bukan anak yang diam dan steril, tapi anak yang banyak nanya. Bertanya terhadap persoalan apapun.
Maka itu, ada beberapa yang harus dilakukan orang tua agar anak tidak menyimpan rahasia. Dia antara melakukan upaya untuk menjebol rahasia anak, sehingga anak terbuka bercerita apapun kepada orangtuanya. Orang tua jadi tempat curhat terhadap semua permasalahan hidup.
Orang tua juga harus banyak berbagi cerita dan kisah kepada anak. Namun, orang tua tidak boleh banyak bertanya kepada anak, tapi buat pernyataan. Kemudian, kuasai skill membuat anak rindu seperti memasak, memijat, dan mendengar. Ini skill yang harus dimiliki ibu.
Baca Juga: 5 Tips Parenting, Dampingi Anak agar Tumbuh Lebih Pintar“Sementara ayah harus menaklukkan rasa bosan pada anak, punya skil menghibur seperti bercerita dan berpetualang, serta kebersamaan bermakna,” tutur Bendri.
5. Menyibukkan Anak dengan Segudang AktivitasOrang tua harus mendidik anak memiliki
daily rundown. Imam Syafii berkata, “Waktu laksana pedang, jika engkau tidak menggunakannya, maka dia akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak disibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal sia-sia.” (
Al Jawaabul Kaafi karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah)
Makanya anak kita harus menjawab pertanyaan Allah Ta’ala dalam surah Al-Hasyr ayat 18, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18)
(jqf)