LANGIT7.ID, Jakarta - Ulama asal Sumatera Utara, Prof. H.
Ustaz Abdul Somad (UAS), menjelaskan, ada keluarga di muka bumi yang dirindukan surga, yaitu keluarga yang dibangun atas dasar nilai-nilai Islam.
Membangun keluarga yang dirindukan surga ini harus dimulai sejak belum menikah. Seorang laki-laki mencari wanita calon istri dengan kriteria menurut Islam. Begitu pun orang tua wanita memilihkan calon suami terbaik untuk anaknya.
Pertemuan laki-laki baik dan perempuan baik akan melahirkan anak-anak terbaik. Dengan begitu, rumah tangga pun selalu dihinggapi keberkahan dari Allah. Maka itu, UAS menilai ada empat hal yang mesti diperhatikan dalam membangun keluarga yang dirindukan surga.
Baca Juga:UAS: Murnikan Tauhid agar Kita Tak Salah Bersandar1. Memilih Calon Suami Terbaik Kriteria calon suami terbaik sudah dijelaskan oleh Rasulullah SAW. “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan ahlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi.” (HR Tirmidzi 1085. Al Albani berkata dalam Shahih At Tirmidzi bahwa hadits ini hasan lighairihi)
Menurut UAS, kandungan hadits tersebut sangat dalam. Laki-laki harus memiliki dua sifat utama tersebut yakni agamanya baik dan ahlaknya mulia. Ini karena banyak orang yang beragama dengan baik, tapi ahlaknya buruk.
“Ada orang yang baik agamanya, tapi tidak baik ahlaknya. Salat rajin, puasa sunah, tapi ngomongnya kasar. Ingat saya pesan nabi, ada orang yang baik agamanya, shalat rajin, sedekah rajin, tapi tidak baik ahlaknya,” kata UAS dalam kajiannya melalui
zoom, Rabu (1/3/2023).
Baca Juga: Karir Tak Halangi Kasih Sayang dan Perhatian Besar ke Buah HatiAda pula orang dengan karakter sebaliknya, yakni ahlaknya baik tapi agamanya kurang. Misalnya punya tutur kata yang baik, baik kepada sesama manusia, tapi tidak pernah shalat.
“Ada kebalikan juga. Orangnya sopan, baik, sering ngasih hadiah, tapi rupanya tidak shalat. Jadi, nabi itu ucapannya luar biasa, tajam sekali. Sifat laki-laki dua, agamanya baik, ahlaknya baik,” ujar UAS.
2. Memilih Calon Istri TerbaikSeorang laki-laki pun harus memilih calon istri terbaik. Ada banyak hadits yang bercerita tentang hal ini. Misalnya, laki-laki dianjurkan memilih calon istri yang baik agamanya.
Baca Juga: Hubungan Suami Istri di Malam Jumat, UAH: Boleh Bukan SunnahTapi, ada krtieria lain yang patut diperhatikan juga. Rasulullah SAW bersabda kepada Umar bin Khattab RA:
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik simpanan seorang lelaki, yaitu istri shaleha yang bila dipandang akan menyengkannya, bile diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi si istri akan menjaga dirinya.” (HR Abu Daud No.1664).
Maka itu, kata UAS, seorang laki-laki melihat wajah perempuan yang hendak dinikahi. Tapi, tidak boleh berdua-dua. Saat melihat itu, ada rasa connect dalam hati saat melihatnya. Hati menjadi senang dan tenang.
Baca Juga: Hukum Potong Jenggot dalam Islam, Boleh kok Dirapikan“Cantik belum tentu menyenangkan. Makanya, jangan heran ada orang menikah, ‘kok dia nikah sama dia’. Itulah jodoh karena pasangannya menyenangkan, membahagiakan, kemudian yang hatinya yang sebelumnya sempit, jadi lapang,” ujar UAS.
Sifat kedua, jika disuruh, taat dia, tetapi perempuan harus hati-hati juga karena banyak laki-laki yang memerintahkan kepada dosa. Dalam Islam, tidak boleh taat kepada mahluk kalau menyebabkan maksiat kepada
Khaliq (Allah Ta’ala).
“Taat kepada suami, tetapi berbuat dosa kepada Allah. Taat kepada suami, tetapi menyebabkan durhaka kepada orang tua. Itu tidak boleh,” ungkap UAS.
Baca Juga: Kemudahan dan Kesulitan Mencari Rezeki Jadi Ujian dari Allah SWT
Ketiga, saat suami pergi meninggalkan rumah karena ada urusan seperti keluar kota, maka istri menjaga dirinya. Istri juga menjaga harta dan anak-anaknya dengan baik.
“Jika suami ada tugas luar kota misalnya, dia menjaga dirinya, harta suami dan anak juga dijaga. Selain itu, istri tidak pula sibuk main gim online, main medsos, sehingga anak tidak terurus dan terawat,” ujar UAS.
3. Ta’aruf, Menikah, hingga Membangun Rumah Tangga dengan Cara BaikPernikahan laki-laki baik dan perempuan baik harus dilalui dengan cara yang baik. Tidak boleh alasan ta’aruf sehingga membolehkan jalan berdua, apalagi sampai pacaran.
Baca Juga: Allah SWT Telah Tetapkan Musibah sebelum Penciptaan Langit Bumi“Laki-lakinya baik, ditanam dibenih yang baik dengan cara yang baik. Makanya, ada yang disebut ta’aruf yang berarti saling mengenal. Sebagaimana tahunya anak Syuaib kepada Nabi Musa,” ujar UAS.
Menurut UAS, sesuatu yang baik dan diridhai oleh Allah akan tercapai jika mengikuti ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Mulai dari pertemuan, pernikahan, Sampaiu membangun rumah tangga mengikuti Al Qur’an dan Sunah.
“Orang-orang baik akan dipertemukan dengan cara yang baik dan bukan dengan cara yang haram. Itulah keluarga yang dirindukan surga. Mulai dari pertemuan, sampai membangun rumah tangga dengan cara yang diridai oleh Allah,” kata UAS.
Baca Juga: JATTI Gelar Silaturahmi Tokoh Bahas Pangan hingga Polarisasi4. Anak yang BaikAnak yang baik akan lahir dari rumah tangga yang dibangin di atas dasar nilai-nilai Islam. Mulai dari persiapan sebelum lahir seperti berdoa kemudian saat berhubungan biologis pun dimulai dengan doa, hingga cara mendidik mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya.
“Sampai anak pun lahir, ketika lahirnya dibisikkan dengan nama yang baik, dan nama Rasulullah kemudian diipotongkan kambing dan mengundang tetangga,” kata UAS.
Saat anak lahir, ibu berperan sebagai madrasah dan ayah sebagai kepala sekolah. Orang tua bekerjasama dalam membuat kurikulum pendidikan keluarga. Mulai dari syariat Islam, adab-adab Islami, akidah, dan ahlak.
Baca Juga: Bersama Ustaz Abdul Somad, Wali Kota Benyamin Hadir di Gebyar Al Kautsar“Anak-anak dididik sesuai Islam, misalnya diajari salat, dan adab-adab. Anak itu tetap pernah berhenti diberi nasihat. Makanya, orang tua harus rajin amar ma’ruf nahi mungkar kepada anak,” ucap UAS.
Pendidikan anak sangat penting dan itu harus dimulai dari rumah. Rumah harus menjadi madrasah bagi anak-anak. Hal ini dibuat agar tumbuh dengan nilai-nilai Islam dan selalu mempraktikkan ajaran Islam sampai tua nanti.
“Kalau Sudah hancur lebur masa depan anak ini,
naudzubillah. Lantai bocor, bisa diperbaiki. Anak salah didik dan tidak bisa tertolong lagi. Dari kecil, biasakan bertudung dan pakai baju lebar. Itulah sebabnya, kontrol orang tua sangat luar biasa,” tutur UAS.
(jqf)