LANGIT7.ID, Jakarta - Sifat dan karakter manusia selalu merasa tidak puas terhadap apa yang sudah ada dan miliki. Manusia selalu merasa kurang dan tidak cukup dengan rezeki yang telah Allah berikan.
Akibatnya, banyak manusia yang membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih darinya, baik dalam hal materi, pendidikan, keluarga, pangkat, jabatan, dan sebagainya. Padahal Allah telah banyak memerintahkan dalam Al-Qur'an agar manusia senantiasa bersyukur.
Baca Juga: Rasulullah Ajarkan Baca Ayat Kursi Sebelum Tidur, Ini ManfaatnyaBahkan dalam surat ar-Rahman Allah mengulang sampai 31 kali pertanyaan, 'maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan'. Ayat ini memberikan sinyal bahwa manusia hendaknya senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan.
Salah satu cara mensyukuri besarnya nikmat adalah dengan melihat orang yang keadaannya jauh dari kita. Dengan begitu, kita pasti akan menganggap besarnya nikmat Allah dan mampu meningkatkan rasa syukur.
Dalam hadits shahih dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم
"Undzuruu ilaa man huwa asfala minkum, wa la tandzuru ilaa man huwa fawqokum, fahuwa ajdaruu an la tazdaadu ni'matallahi alaykum'.
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca Juga: Lewat Santri, Bangsa Indonesia Miliki Karakter KuatImam Al Munawi rahimahullah mengatakan, jika seseorang melihat orang di atasnya (dalam masalah harta dan dunia), dia akan menganggap kecil nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia selalu ingin mendapatkan yang lebih. Cara mengobati penyakit semacam ini, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya (dalam masalah harta dan dunia).
Dengan melakukan semacam ini, seseorang akan ridha dan bersyukur, juga rasa tamaknya (terhadap harta dan dunia) akan berkurang. Jika seseorang sering memandang orang yang berada di atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah yang diberikan padanya. Namun, jika dia mengalihkan pandangannya kepada orang di bawahnya, hal ini akan membuatnya ridha dan bersyukur atas nikmat Allah padanya.”
Baca Juga: Pemprov Jabar Perkuat Program Satu Desa Satu HafidzImam Al Ghazali rahimahullah mengatakan, setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah.’
Namun dalam masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan Allah[?]” Si fulan itu masih lebih berilmu darimu’.” (Lihat Faidhul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shaghir, 1/573)
Baca Juga:
Beralih dari BBM ke Listrik PLN, ASDP: Kapal Ferry Lebih Efisien dan Tidak Bising
Berikut Usia Ideal Memasukkan Anak ke Pondok Pesantren(asf)