Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 13 Maret 2026
home masjid detail berita

Mengaji Tanpa Prioritas: Saat Lembaga Keagamaan Terlalu Sibuk Membedah Masa Lalu

miftah yusufpati Jum'at, 01 Agustus 2025 - 17:00 WIB
Mengaji Tanpa Prioritas: Saat Lembaga Keagamaan Terlalu Sibuk Membedah Masa Lalu
Ilmu itu ibarat makanan. Yang penting bukan banyaknya, tapi gizi dan kegunaannya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di ruang-ruang kuliah fakultas usuluddin, para mahasiswa tampak tekun menelaah kitab al-Mawaqif karya al-Iji, lengkap dengan syarah al-Jurjani yang rumit dan berliku. Diskusi berkutat pada tema al-thabi’iyyat atau al-muqaddimat yakni pokok bahasan metafisika dan logika Yunani kuno, yang bahkan para dosen pun kerap kesulitan menjelaskannya.

Waktu habis. Tenaga terkuras. Tapi seberapa jauh pelajaran itu menumbuhkan pemahaman praktis keislaman bagi mahasiswa yang kelak akan menjadi khatib, guru madrasah, atau penggiat dakwah digital?

Syaikh Yusuf al-Qardhawi menggugat metode pendidikan seperti ini dalam bukunya, Fiqh Prioritas: Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Robbani Press, 1996). Ia menyoal pemborosan waktu pada studi-studi klasik yang tidak lagi menjawab kebutuhan zaman.

“Banyak pelajaran yang menghabiskan tenaga dan waktu para pelajar,” tulis Qardhawi, “padahal separuh atau seperempat dari waktu itu sebetulnya dapat dipergunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat bagi agama dan dunia mereka.”

Qardhawi tak menolak pentingnya khazanah keilmuan lama. Tapi ia menekankan urgensi menyusun ulang prioritas. Fiqh al-Awlawiyyat, demikian istilahnya: fiqh yang mengatur mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa diakhirkan. Mana yang pokok dan mana yang periferal. Mana yang harus ditekankan untuk menjawab zaman.

Baca juga: Jalan Bertahap Menuju Masyarakat Islam: Menelusuri Fikih Transformasi Sosial ala Qardhawi

Metodologi Klasik

Di banyak tempat, institusi pendidikan Islam masih mengandalkan metodologi klasik—terutama dalam ilmu kalam. Kitab-kitab diwariskan turun-temurun tanpa sentuhan pembaruan metodologi. Padahal, kata Qardhawi, ilmu kalam mestinya sudah tidak lagi mengandalkan logika Yunani yang ruwet, melainkan menyapa akal dan hati manusia modern dengan kesegaran pesan Al-Qur’an dan realitas kontemporer.

Ia mengutip karya ulama Yaman, Ibn al-Wazir, Tarjih Asalib al-Qur’an ‘ala Asalib al-Yunan (Mengunggulkan Gaya Al-Qur’an atas Gaya Yunani). Pendekatan ini menyarankan agar akidah dijelaskan melalui ayat-ayat semesta dan bukti ilmiah—bukan spekulasi Aristoteles.

Maka tak heran Qardhawi juga merekomendasikan kitab-kitab seperti al-‘Ilm Yad’u ila al-Iman (Ilmu Mengajak kepada Iman), atau Allah wa al-‘Ilm al-Hadits (Allah dan Ilmu Modern) yang membangun hubungan antara keimanan dan temuan ilmiah.

Ilmu fikih pun tak luput dari kritik. Fikih hari ini, kata Qardhawi, harus hadir dalam format baru—lebih ramah terhadap kepentingan manusia zaman ini. Bukan hanya bicara najis dan haid, tapi juga soal transaksi keuangan modern, perbankan syariah, perjanjian digital, hingga perubahan standar timbangan dan mata uang.

Masalahnya, transformasi ini sulit terjadi karena mental pengajar dan pendakwah masih berkutat pada pola lama. “Kebanyakan hanya mengisi otak masyarakat dengan pengetahuan agama yang dihafal dan diulang-ulang,” tulis Qardhawi. Dalilnya lemah. Rujukannya penuh kisah Israiliyat dan hadis maudhu’.

Baca juga: Membaca Ulang Aturan dalam Keadaan Terpaksa: Fikih Tak Sekadar Larangan

Fenomena ini menciptakan tumpukan pengetahuan yang semu. Isu-isu tak penting terus diangkat: apakah Nabi Muhammad adalah makhluk pertama, atau kisah-kisah keramat para wali, yang kerap tanpa dasar syariat. Masalah khilafiyah terus digoreng tanpa akhir. Debat antarmazhab dan tasawuf dipanaskan tanpa solusi.

Menurut Qardhawi, di sinilah fiqh prioritas menjadi pelita. Ia menyerukan agar umat memahami bukan hanya apa yang halal dan haram, tapi mana yang lebih penting untuk dilakukan lebih dulu. Dakwah harus berbeda untuk masyarakat awam dan intelektual. Kita tak bisa menyuapi buruh pabrik dengan retorika filsafat Ibn Sina.

Prioritas, dengan demikian, adalah kunci.

Keresahan Besar

Seruan Qardhawi tidak berdiri sendiri. Ia merepresentasikan keresahan besar di kalangan intelektual Islam modern yang ingin menghubungkan warisan klasik dengan kebutuhan zaman. Ia tak ingin umat tercerabut dari akarnya, tapi juga tak ingin terperangkap di masa lalu.

Mungkin sudah saatnya institusi pendidikan Islam menggeser poros. Dari sekadar menghafal pendapat ulama, menjadi laboratorium pengembangan pemikiran dan peradaban Islam kontemporer.

Seperti kata Qardhawi, “Ilmu itu ibarat makanan. Yang penting bukan banyaknya, tapi gizi dan kegunaannya.”

Baca juga: Jalan Terang Menuju Kemudahan: Pelajaran Fikih Prioritas untuk Zaman yang Sarat Kepayahan

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 13 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:06
Ashar
15:11
Maghrib
18:10
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)