LANGIT7.ID, Jakarta - Nama Tri Mumpuni, mungkin kurang akrab bagi kebanyakan orang. Namun, bagi kalangan yang punya perhatian di bidang energi maupun energi terbarukan, tak asing lagi dengan sosoknya. Tri dikenal sebagai ‘wanita listrik’, tentu bukan karena ia mempunyai kekuatan super seperti di film-film superhero. Melainkan kemampuan dan kegigihannya untuk menggerakkan warga membuat listrik dari energi listrik terbarukan yaitu menggunakan tenaga air
Berkeliling dan Mencintai DesaIa bersama suaminya Iskandar Budisaroso Kuntoadji sering berkeliling desa sebagai destinasi liburan, bahkan melalui mata kuliahnya ketika kuliah di Institut Pertanian Bogor dulu.
Menurut Muslimah yang biasa disapa Puni ini, pertama kali jatuh cinta pada pedesaan saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu, salah satu program kelas empat adalah piknik di lereng gunung Ungaran, Jawa Tengah.
Ia menceritakan bagaimana saat itu pergi naik truk, mandi di sungai, dan dapat membakar singkong
“Kami jalan-jalan melewati rumah-rumah warga. Melihat mereka membakar singkong. Rumah mereka sederhana sekali, lantainya ada yang masih tanah,” kata Tri Mumpuni.
Dari situ ia prihatin melihat bahwa pembangunan belum merata termasuk listrik banyak belum masuk ke desa-desa.
Berawal dari kecintaannya pada desa, Tri Mumpuni mulai bergerak membuat Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro (PLTMH) di desa-desa di Indonesia. Kini ia telah menyinari lebih dari 60 desa terpencil di seluruh pelosok Nusantara.
Berawal dari Frustasi Mahasiswa ITBPembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), sebetulnya berawal dari 22 mahasiswa Institut Teknologi Bandung pada tahun 1979 yang frustrasi dengan kebijakan pembangunan pemerintah di pedesaan. Mereka melihat pemerataan listrik masih amat kurang sekali di banyak desa di Seluruh Indonesia.
Maka para mahasiswa ini di kemudian hari mendirikan Yayasan Mandiri, bernama IBEKA. Suami, Puni, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, adalah salah satu dari 22 mahasiswa tersebut. Tak, lupa Iskandar mengajak Puni bergabung. IBEKA adalah singkatan dari Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan, yang kemudian IBEKA bertransformasi menjadi
People Centered Business and Economics Initiative.
Bersama Puni, IBEKA berkeliling desa-desa di seluruh Indonesia. Saat di sana, ia melihat ternyata banyak desa yang belum dilalui oleh listrik. Salah satunya adalah di Sumba, Desa Kamanggih, NTT. Menurut Puni, saat berada di sana, ada dua pembangkit listrik milik pemerintah, tapi belum sampai mengaliri listrik ke desa, karena lokasinya yang sulit diakses.
Untuk membangun pembangkit di Sumba, Puni dan timnya harus memotong bukit sepanjang 2,6 kilometer untuk bisa mengangkut hampir satu ton alat berat. Ini semua dilakukannya bersama-sama dengan masyarakat karena ada keinginan yang kuat dan gotong royong.
Menurut Puni untuk membangun PLTMH membutuhkan uang dan tenaga yang cukup besar. Oleh karena itu, ia biasanya akan menghubungi Kepala Desa untuk membangun pembangkit listrik dengan memanfaatkan aliran sungai untuk menghasilkan listrik dari sebuah turbin.
Tidak hanya itu, Puni dan tim harus mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai PLMTH ini.
“Masyarakat harus diberikan kepercayaan dan diajarkan untuk membangun dirinya sendiri dengan membuat mereka sadar akan potensi diri sendiri. Dengan begitu, pembangunan akan berjalan secara otomatis,” katanya.
Meski namanya sudah masuk masuk ke dalam 22 besar dalam daftar 500 ilmuwan Muslim paling berpengaruh di dunia yang diterbitkan
Royal Islamic Strategic Studies Centre, bagi Tri Mumpuni PLMTH bukanlah tujuannya, melainkan pemberdayaan masyarakat khususnya secara ekonomi adalah tujuan utamanya. Dengan adanya listrik diharapkan ekonomi masyarakat dapat terbangun dan pelan tapi pasti pembangunan di desa dalam berbagai aspek akan meningkat.
Sumber: ibeka.or.id , bio.or.id dan berbagai sumber(jqf)