Di Indramayu akhir abad ke-19, seorang santri bernama Kartawidjaja menukar Al-Quran dengan Injil. Dari pesantren ke gereja, kisahnya mencerminkan benturan iman, modernitas, dan kuasa kolonial Belanda.
Bagi Achmad Baiquni, alam semesta bukan ruang kosong, melainkan kitab terbuka berisi ayat-ayat Allah. Ia menuntut manusia berpikir, meneliti, dan membaca langit sebagaimana membaca wahyu.
Dalam pandangan KH Ali Yafie, perubahan hukum dalam Al-Quran bukan tanda kontradiksi, melainkan proses pendidikan ilahicara Tuhan menumbuhkan umat menuju kedewasaan spiritual.
Dari kesemakhlukan hingga keimanan, Islam menanamkan jaringan ukhuwah yang luas dan dalam. Quraish Shihab membacanya sebagai peta moral bagi umat yang kian terbelah.
Dari ruang diskusi Paramadina di awal 1990-an, KH Ali Yafie menafsirkan naskh bukan sekadar pencabutan ayat, melainkan cara wahyu berdialog dengan sejarah dan perubahan zaman.
Tak ada kontradiksi dalam Al-Quran. Tapi sejarah penafsiran justru diwarnai perdebatan tentang ayat yang menghapus ayat lain. Di sinilah logika hukum dan keimanan bertemu.
Al-Quran tak hanya menyeru iman, tapi juga kolaborasi. Dari Musa dan Harun hingga Zulqarnain, kisah-kisahnya menunjukkan bahwa kekuatan umat lahir dari kerja sama dan saling menolong.
Al-Quran tak bicara kemiskinan dengan angka dan data, tapi dengan gerak dan nilai. Dalam tafsir Quraish Shihab, miskin bukan sekadar kurang hartamelainkan berhenti berusaha dan kehilangan arah moral.
Dalam Al-Quran, Haman bukan sekadar menteri Firaun, tapi simbol abadi politikus oportunis: cerdas, licin, dan rela menukar nurani demi kuasa. Tanpanya, tirani takkan punya wajah dan strategi.
Kisah Qarun bukan sekadar tentang orang kaya yang tamak, tapi tentang manusia yang lupa bahwa harta tanpa amanah adalah ujian. Qarunisme hidup di setiap zaman, saat kekayaan kehilangan nurani.
Untuk pertama kalinya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaksanakan kegiatan Pelatihan Pengajar (ToT) Alquran Isyarat. Hal ini merupakan perwujudan komitmen pemerintah untuk memberikan Pendidikan Bermutu untuk Semua.
Al-Quran memberi tolok ukur penguasa: shalat, zakat, amar maruf, nahi munkar. Kekuasaan bukan sekadar jabatan, tapi amanah menjaga hubungan dengan Tuhan, rakyat, dan kebajikan.
Wahyu pertama bukan perintah shalat, tapi Iqra (bacalah). Membaca apa saja: alam, sejarah, diri, zaman. Ilmu lahir dari kerja keras (kasbi) maupun anugerah (ladunni), namun harus selalu bismi rabbik.