Bucaille tidak hendak mengislamkan ilmu pengetahuan. Ia justru mencoba menguji keabsahan klaim Quran lewat kaca mata ilmiahtanpa menanggalkan ketelitian medisnya.
Maurice Bucaille menyebut keretakan itu sebagai bukti bahwa kitab suci ini adalah hasil proses panjang yang melibatkan tradisi-tradisi lisan, penyusun, dan editor selama berabad-abad.
Bukan dongeng, bukan pula sekadar sejarah. Kisah-kisah yang ada dalam lembaran Al-Quran adalah strategi pendidikan Tuhan, yang membimbing manusia lewat cerita yang hidup dan penuh hikmah.
Sebuah keluarga kecil yang Allah sebut setara dengan keluarga para nabi, bahkan diabadikan sebagai nama sebuah surat dalam Alquran. Sebuah pelajaran tentang iman, kesucian, dan keteguhan di tengah badai fitnah.
Sang dosen menyebut bahwa penyakit kita yang lain adalah terlalu cepat mengeluh, bahkan untuk hal-hal kecil, padahal penderitaan sesungguhnya mungkin baru terasa di akhirat kelak bila kita abai pada hakikat hidup.
Banyak anak muda masa kini yang memandang pernikahan sebagai jalan halal untuk menyalurkan hasrat seksual. Tapi benarkah begitu? Apakah seks dan keturunan memang inti dari pernikahan menurut ajaran Islam?
Kekosongan data inilah yang justru mengandung pesan yang lebih dalam: fokus Al-Quran bukan pada fakta sejarah yang kasat mata, melainkan pada nilai-nilai yang abadi dan lintas zaman.
Ia adalah peringatan abadi bahwa kesombongan kolektif, ketika kebenaran ditolak karena alasan tradisi, dan iman dikalahkan oleh sistem sosialmampu membuat satu peradaban disapu angin dalam satu malam.
Dengan kemajuan teknologi, umat muslim jadi bisa memanfaatkan teknologi ketika beribadah. Semisal menggunakan handphone untuk membaca Alquran ketika shalat.
Dari wahyu pertama hingga ilmu gizi, dari sabda Nabi hingga hasil riset Nobel, Islam menenun satu kesatuan besar: kesehatan adalah ibadah, dan kebersihan adalah bagian dari jalan menuju kesempurnaan iman.
Prof Dr M Quraish Shihab mengatakan thayyib dalam konteks makanan adalah makanan yang sehat, proporsional, dan aman. Tentunya, sebelum itu, makanan tersebut harus halal.
Kata halal berasal dari akar kata yang berarti lepas atau tidak terikat. Sesuatu yang halal adalah sesuatu yang terlepas dari ikatan bahaya duniawi dan ukhrawi. Karena itu, kata halal juga berarti boleh.
Menurut al-Sibai, mereka yang menolak hadis (dalam arti menolak otoritasnya sebagai sumber hukum) mendasarkan pandangannya pada beberapa argumen berikut: