Seorang lelaki tua bernama Dhamrah bin Jundub memilih meninggalkan Makkah demi hijrah, meski sakit dan renta. Di tengah padang pasir, ajal menjemputnya, namun Allah menulisnya sebagai muhajir sejati.
Di tengah riuh perdebatan identitas, satu kata kembali disorot: umat. Kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna yang tak habis ditafsirkan.
Tak ada pengecualian dalam hukum sosial Tuhan: siapa pun yang enggan berubah, akan digilas sejarah. Pertanyaannya, kita di jalur yang mana? Berikut ini penjelasannya.
Wahyu pertama bukan sekadar ajakan membaca, tapi proyek sosial: membangun masyarakat adil. Quraish Shihab mengingatkan, Al-Quran bicara banyak soal hukum kemasyarakatan.
Di jalanan Karachi hingga Kairo, slogan Kembali ke Quran dan Sunnah menggema. Tapi yang muncul hanya ritualisme dan simbol, bukan ruh peradaban yang dulu mengubah dunia Islam.
Pendaratan manusia di bulan digadang-gadang bukti sains dalam Al-Quran. Al-Utsaimin menegaskan: memaksakan tafsir ilmiah justru berisiko menodai kesucian wahyu.
Bucaille menyebut ada banyak ruang pertemuan antara Quran dan Bibel: kisah nabi-nabi besar (Nuh, Ibrahim, Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Isa), juga kisah Maryam, kelahiran Isa, banjir besar, hingga eksodus Bani Israil.
Dalam perspektif Al-Quran, ia adalah sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Namun, apa tepatnya yang dimaksud sesuatu itu, kitab suci tak pernah menjelaskannya secara gamblang.
Dalam kerangka itu, perdebatan tentang Adam dan evolusi menjadi sampingan. Tujuan utamanya adalah: bagaimana manusia menyadari siapa dirinya, dari mana ia datang, dan ke mana ia kembali.
Ketika yang remeh dielu-elukan dan yang pokok diabaikan, saatnya kita kembali membuka Al-Quran dan menakar ulang apa yang sesungguhnya paling dikehendaki agama.
Berpikir tentang langit dan bumi bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bentuk zikir yang menyatu dengan amal. Zikir tanpa pikir bisa menjadi kering, sementara pikir tanpa zikir bisa kehilangan arah, tulis Quraish.