Islam menempatkan harta sebagai titipan, bukan milik mutlak. Kekayaan wajib berfungsi sosial, menghindari monopoli, dan menolak transaksi yang merusak keadilan.
Bagi Quraish Shihab, harta adalah khairkebaikan. Tapi daya tariknya bisa menjerumuskan bila tak diatur. Etika Al-Quran hadir untuk menuntun manusia agar uang tak jadi tuan, melainkan alat ibadah.
Nabi tak melarang semua nyanyian. Lagu Anshar di Madinah hingga irama Al-Quran menunjukkan: seni suara adalah anugerah, selama tak membawa pada kemaksiatan.
Dari ibu Musa hingga Khaulah binti Tsalabah, Al-Quran menampilkan perempuan bukan sekadar pelengkap, tapi teladan iman, kecerdikan, dan keberanian moral.
Balqis, ratu bijak dari Saba, memimpin kerajaan makmur dengan musyawarah, diplomasi, dan kecerdasan. Hingga akhirnya, ia berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Islam bukan hanya bicara iman, tapi juga demokrasi, dialog, dan kebebasan memilih. Nilai-nilai yang ditegaskan Al-Quran ini justru relevan untuk melawan politik identitas masa kini.
Dari istana khalifah hingga jagat media sosial, hawa nafsu terus menjerat manusia. Al-Quran menegur keras, para ulama mengingatkan, namun nafsu selalu mencari jalannya.
Air Sungai Nil jadi saksi kepasrahan seorang ibu. Demi ilham Ilahi, ia hanyutkan bayinyasebuah ketaatan yang mengalahkan naluri, dan janji Allah pun jadi penghibur hatinya.
Interaksi sosial perempuan dan laki-laki sudah ada sejak kisah Hajar dan Sarah di era Ibrahim. Al-Quran, hadis, dan tafsir menegaskan perannya dalam ruang publik, selama adab dan syariat terjaga.
Seorang lelaki tua bernama Dhamrah bin Jundub memilih meninggalkan Makkah demi hijrah, meski sakit dan renta. Di tengah padang pasir, ajal menjemputnya, namun Allah menulisnya sebagai muhajir sejati.
Di tengah riuh perdebatan identitas, satu kata kembali disorot: umat. Kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna yang tak habis ditafsirkan.