Pesantren bukan warisan Arab, tapi hasil perjumpaan tarekat Syattariyyah, patronase keraton, dan semangat rakyat desa menuntut ilmu di luar istana. Dari situ lahir wajah Islam Jawa yang khas.
Kini, tiga abad setelah itu, pertanyaan yang sama masih menggema: sejauh mana Islam di Nusantara masih menampung roh keterbukaan dan kebudayaan yang dulu menyambutnya?
Sufisme bukan sekadar jalan batin di Jawa abad ke-18. Ia menjelma kekuatan politik yang memicu pengasingan, pemberontakan, dan kejatuhan Pakubuwana II ke pelukan Belanda.
Menempuh jalan dari Gowa, Banten, hingga Cape Town, Syekh Yusuf menganyam ilmu, tarekat, dan perlawanan. Warisannya membuktikan: spiritualitas bisa menjadi senjata melawan kolonialisme.
Dari Aceh hingga Banten, ulama Nusantara abad ke-17 menempuh jalur panjang ke Mekah dan Madinah. Mereka bukan sekadar berhaji, tapi menimba ilmu, membangun jejaring, dan membentuk wajah Islam Nusantara.
Aceh dan Banten abad ke-17 bukan sekadar kerajaan rempah. Dari balairung Safiyyat al-Din hingga utusan ke Mekah, Nusantara menegosiasikan teologi, politik, dan legitimasi global Islam.
Pertarungan al-Raniri dan Sayf al-Rijal di Aceh abad ke-17 bukan sekadar perebutan pengaruh istana, tapi cermin kosmopolitanisme Islam: antara teks dan mistik, ortodoksi dan muhaqqiqin.
Dari catatan pelaut Arab hingga nisan Malik al-Salih, Islam menjejak lewat rempah, tarekat sufi, dan legitimasi politik. Nusantara jadi simpul globalisasi Samudra Hindia.
Dari Sungai Nil ke Laut Tengah, agama selalu jadi sumber peradaban. Ketika Mesir, Persia, dan Romawi retak, jazirah Arab justru melahirkan jawaban baru: Islam sebagai jembatan dunia.
Di antara dentum Romawi dan Persia, jazirah Arab seolah sunyi. Gersang tanpa sungai, hanya kafilah dan oasis. Namun dari tanah tandus itulah kelak lahir revolusi yang mengguncang dunia.
Wahyu pertama bukan perintah shalat, tapi Iqra (bacalah). Membaca apa saja: alam, sejarah, diri, zaman. Ilmu lahir dari kerja keras (kasbi) maupun anugerah (ladunni), namun harus selalu bismi rabbik.