Nabi Muhammad sering digambarkan miskin. Padahal sejarah menunjukkan beliau saudagar sukses, menikah dengan Khadijah yang kaya, dan mengelola harta besar untuk menopang dakwah Islam.
Mansa Musa, raja Mali abad ke-14, disebut manusia terkaya sepanjang sejarah. Emas, garam, dan jaringan dagang menjadikannya simbol kejayaan Afrika Barat sekaligus patron ilmu pengetahuan Islam.
Dalam Islam, perang hanyalah jalan darurat. Yusuf al-Qardhawi menegaskan: kemenangan sejati lahir dari pembinaan iman, kesabaran, dan ujian, bukan dari ambisi cepat meraih kuasa.
Sejak masa Nabi, perempuan hadir di saf ibadah: Subuh di Madinah, shalat gerhana, itikaf, hingga haji. Riwayat klasik menegaskan partisipasi mereka sahih, bukan sekadar produk modernitas.
Balqis, ratu bijak dari Saba, memimpin kerajaan makmur dengan musyawarah, diplomasi, dan kecerdasan. Hingga akhirnya, ia berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Dari mihrab sunyi Baitul Maqdis, kisah Maryam binti Imran abadi dalam Al-Quran sebagai simbol iman, pengabdian, dan keberanian perempuanteladan lintas zaman yang melampaui sekat gender.
Dari perlindungan Raja Nasrani di Ethiopia hingga kekecewaan Yahudi Madinah, perjumpaan Islam dengan Ahl al-Kitab membuka babak baru relasi iman dan politik.
Saat haus dan lelah, Musa menolong tanpa pamrih. Kisah di balik doa dan pertemuan itu mengajarkan: kebaikan sejati tak butuh panggung, hanya hati yang lapang dan iman yang teguh.
Nama itu semula terdengar asing. Bayi yatim, ditolak para penyusu, akhirnya diasuh perempuan miskin. Dari gurun yang keras, lahir pribadi yang kelak mengubah wajah sejarah dunia.
Hampir seabad lahir di Mesir, ide Ikhwanul Muslimin menyeberang ke Indonesia. Dari halaqah sunyi di masjid kampus, ia kini mengakar di partai politik. Bagaimana pengaruhnya bertahan di era demokrasi?
Di balik atap masjid bergaya kuil, umat Islam di Tiongkok berjuang mempertahankan iman. Dari Dinasti Ming hingga era Xi, sejarah mereka adalah kisah adaptasi dan perlawanan senyap.
Sejak awal abad ke-20, Islam dan komunisme bersaing memperebutkan ruang ideologis di Nusantara. Persaingan ini bukan sekadar doktrin, melainkan juga perebutan pengaruh politik.
Di tengah riuh perdebatan identitas, satu kata kembali disorot: umat. Kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna yang tak habis ditafsirkan.