Madinah abad ke-7. Nabi dan sahabat tak tabu menyebut rupa perempuan: cantik, gemuk, tinggi besar, atau berkulit hitam. Hadis-hadis ini menyingkap keterbukaan teks, bukan pelecehan, melainkan penghormatan.
Sejak abad ke-7, perempuan jadi penopang tradisi ilmu Islam. Dari Aisyah hingga Ummu Salamah, riwayat mereka melahirkan fondasi hukum, etika sosial, dan potret utuh kehidupan Nabi.
Utang tak gugur oleh syahid. Nabi SAW menegaskan, hak manusia lebih berat dari hak Allah. Sebelum haji atau jihad, pastikan utang lunas agar tak terjerat di dunia dan akhirat.
Di jalanan Karachi hingga Kairo, slogan Kembali ke Quran dan Sunnah menggema. Tapi yang muncul hanya ritualisme dan simbol, bukan ruh peradaban yang dulu mengubah dunia Islam.
Hari ini, kita membutuhkan lebih banyak Agus Salim baru. Orang yang menguasai bahasa dunia, memahami geopolitik, dan berani berkata benar di hadapan siapa pun, tanpa tunduk pada tekanan.
Tawasul dengan amal saleh adalah syariat yang dibenarkan, berbakti kepada orang tua harus diutamakan, meninggalkan zina karena takut kepada Allah adalah tanda keimanan yang tinggi.
Dalam kehidupan ini, mukjizat adalah tanda kuasa Allah yang diberikan kepada para nabi atau peristiwa luar biasa yang menunjukkan kebenaran suatu ajaran.
Kini, ratusan tahun setelah peristiwa itu berlalu, bait syair perempuan hitam itu tetap menggema sebagai pelajaran tentang iman, kesabaran, dan keajaiban ilahi: Hari selendang adalah tanda keajaiban Tuhan kita...
Sayangnya, istilah tajdd kerap disalahpahami. Sebagian menyamakannya dengan liberalisasi ajaran, bahkan melemahkan fondasi agama atas nama kontekstualisasi.
Nabi Muhammad SAW belum lama wafat ketika umat mulai berhadapan dengan pertanyaan pelik: siapa yang boleh ditiru dalam beragama? Berikut penjelasannya.
Riwayat lain bahkan mencatat respons Ibnu Umar yang lebih tajam. Ia menutup pernyataannya dengan kalimat: Sunnatullah dan sunnah Rasul-Nya lebih patut kamu ikuti daripada sunnah si fulan jika kamu memang benar.
Tak banyak perempuan dalam sejarah Islam yang mampu berbicara lantang, apalagi menentang pandangan para lelaki pemuka agama di masanya. Tapi Aisyah binti Abu Bakar bukanlah perempuan biasa.
Pernyataan ini tidak hanya membantah pandangan Abu Hurairah, tetapi juga membuka kembali diskursus lama soal siapa yang paling berwenang bicara tentang kehidupan Nabi.