Islam Nusantara bukan kisah damai tanpa riak. Michael Laffan melihatnya sebagai gunung api yang sesekali meletuslahir dari silang budaya, jaringan ulama global, dan tekanan kolonial.
Di balik sekolah-sekolah kolonial, tersimpan misi yang halus: menguasai lewat bahasa. Dari Surakarta ke Leiden, Islam dipelajari bukan untuk dipahami, tapi untuk diatur.
Pada 1812, Inggris menjarah Keraton Yogyakarta. Bukan cuma emas yang dibawa, tapi juga makna. Di tangan kolonial, manuskrip Islam Nusantara berubah jadi artefak, bukan warisan ilmu.
Penemuan kota kuno berusia 4.000 tahun di oasis Khaybar, Arab Saudi, membuka misteri peradaban awal manusia. Kota bernama Al-Natah ini menunjukkan bagaimana masyarakat nomaden mulai hidup menetap dan membangun sistem kota sejak Zaman Perunggu.
The House of Islamic Arts adalah museum pertama di Kerajaan Saudi yang didedikasikan untuk seni Islam. Museum ini menyimpak koleksi yang mencakup masa-masa peradaban Islam.
Sejarah bukan sekadar narasi tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang apa yang harus dipelajari. Ketika ayat dan artefak bersesuaian, maka iman bukan hanya dibaca tapi dirasakan.
Di sinilah, sekitar tahun ke-20 Hijriah, denyut terakhir kejayaan Zoroaster dan Sasanid berpacu melawan waktu. Pasukan Muslimin datang bukan hanya dengan pedang dan panji, tapi juga dengan mandat sejarah.
Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.
Saat Eropa terperosok dalam abad-abad kegelapan, justru dunia Muslim menjelma sebagai pusat intelektual dunia. Yang menarik: kekuatan itu bukan lahir dari isolasi, tetapi dari keterbukaan.