WAZIN Indonesia dan Al-Azhar Mesir gelar webinar Tarhib Ramadan bahas peran penting perempuan dalam sejarah Islam sebagai penutup rangkaian Milad ke-1 WAZIN.
Artikel ini mengulas peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW sebagai perjalanan suci yang membangkitkan spirit umat. Simak makna filosofis pembersihan hati, teknologi Buraq dalam tinjauan akademis, hingga relevansinya terhadap kebangkitan Islam dan perdamaian dunia di era modern.
Kekalahan armada Bizantium dari pasukan Muslim mengguncang Laut Tengah. Lari ke Sisilia, jenderal Konstantin justru dibunuh rakyatnya sendiri. Sejarah mencatat bagaimana kekuasaan direbut rasa takut.
Kisah lahirnya armada laut pertama dalam sejarah Islam bukan sekadar catatan militer. Ia adalah momentum perubahan strategi, politik, dan imajinasi bangsa Arab ketika kekuasaan maritim Rumawi mulai runtuh.
Ketika pasukan Romawi menerjang Mesir Hilir, Amr bin Ash memilih taktik tak lazim: membiarkan musuh menampakkan keburukannya. Keputusan itu mengubah arah perlawanan Arab di bawah Khalifah Utsman.
Pada awal pemerintahan Utsman bin Affan (664 M), 300 kapal Romawi mendarat diam-diam di Iskandariah. Serangan ini mengguncang Mesir dan menjadi ujian besar bagi kekhalifahan muda.
Konstans II menyiapkan 300 kapal untuk merebut kembali Mesir dari tangan Muslim. Armada itu mendarat tanpa terdeteksi di Iskandariah. Inilah salah satu operasi militer paling berani pada abad ke-7.
Keputusan politik di Mesir, ketegangan elite Arab, dan kelengahan administratif membuka celah. Dari Iskandariah, orang-orang Romawi menulis ke Konstantinopel, memanggil kembali bayang-bayang Bizantium.
Di medan kampanye Kaukasus, perselisihan tajam pecah antara pasukan Kufah dan Syam soal rampasan perang. Gesekan itu membuka tabir persaingan laten dua komunitas Arab yang kelak memicu badai politik besar.
Di perbatasan Syam dan Persia, Armenia menjadi simpul terakhir kekuasaan Bizantium yang resah. Setelah Umar wafat, wilayah itu kembali gelisah. Utsman harus memastikan Syam tak terbuka untuk ancaman dari utara.
Di bawah bayang-bayang Snouck Hurgronje, kolonial Belanda berusaha memahami Islam sambil tetap mencurigainya. Dari politik pengawasan dan tafsir akademik yang bias, lahir kesadaran baru di kalangan Muslim Hindia.
Tragedi Cimareme 1919 membuka babak kelam antara kolonialisme dan kesalehan rakyat. Dari dzikir yang disangka pemberontakan hingga perpecahan Sarekat Islam, sejarah mencatat iman dan politik pernah bertarung di tanah Priangan.
Dari zikir yang mengguncang lantai di Aceh hingga doa sunyi di Lombok, kisah kolonial Belanda dan Islam Nusantara tersisa sebagai potret paradoks: pengetahuan yang lahir dari hasrat untuk menaklukkan.