Setelah Haji, jamaah telusuri jejak Nabi di situs bersejarah Makkah & Madinah. Jabal al-Nour hingga Gunung Uhud jadi momen spiritual yang menggetarkan hati.
Pembicaraan tentang hubungan agama dan politik dalam Islam seringkali mengabaikan konteks historis yang mendasar: masyarakat Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW.
Malam jatuh perlahan di kota Makkah, saat para lelaki Quraisy menyesap nabidh di sekeliling Kakbah. Mereka duduk melingkar, menyimak kisah dari utara dan selatan, dari Yaman hingga Hira, dari Ghassan hingga pedalaman Hijaz.
Zamzam sumur yang dulu dikatakan muncul karena tangisan Ismail telah lama hilang jejaknya. Dan Abd al-Muttalib hanya punya satu anak lelaki, Harith, untuk membantu tugas yang sungguh berat.
Syaiba dibawa pulang ke Makkah, menunggang unta pamannya. Warga kota menyangka ia budak, dan dari sanalah nama Abd al-Muthalibbudak Muthalibmelekat. Ironisnya, nama itu justru menjadi identitas sejarah yang tak terlupakan.
Dari langkah sunyi seorang ayah dan putra di tanah tandus, hingga pusaran sejarah yang mengikat Makkah sebagai nadi keimanan umat Islam. Mengapa masih ada yang meragukan?
Ribuan orang datang ke Madinah dari berbagai penjuru: dari kota-kota dan pedalaman, dari pegunungan dan padang pasir, dari semua pelosok Tanah Arab yang membentang luas.
Kemungkinan besar, asal-usulnya bermula sejak ribuan tahun yang lalu. Yang dapat dipastikan adalah bahwa lembah tersebut dahulu menjadi tempat perhentian kafilah untuk beristirahat, karena terdapat sumber mata air.
Dalam waktu seratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, para penggantinya (khalifah) berhasil membentuk sebuah kekhalifahan yang wilayahnya bahkan melebihi kekuasaan Kekaisaran Romawi.
Kedaulatan Islam meluas sampai mendekati Afganistan dan Cina di sebelah timur, Anatolia dan Laut Kaspia di utara, Tunis dan sekitarnya di Afrika Utara di bagian barat dan kawasan Nubia di selatan.
Kaum Quraisy menunda-nunda renovasi Kakbah karena merasa takut kalau bangunannya diperkuat, pintunya ditinggikan dan diberi beratap, dewa Kakbah yang suci itu akan menurunkan bencana kepada mereka.
Ashabiyah dan nasionalisme: Bagaimana Islam memandang cinta tanah air? Mengupas fanatisme kelompok dalam konteks modern dan perbedaannya dengan patriotisme sejati.
Poligami bukanlah ajaran yang diperkenalkan Islam. Sebaliknya, Islam membatasi praktik poligami dengan syarat keadilan dan lebih mengarah pada monogami.