Otoritas sepakbola tertinggi dunia, FIFA turut berduka atas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan korban jiwa. Bentuk duka pun diekspresikan melalui pengibaran bendera setengah tiang di markas mereka di Swiss.
Kepala Dinas Kesehatan dan beberapa pihak terkait untuk proaktif dan memberikan pertolongan medis, kepada para korban yang mengalami luka-luka secara maksimal.
Gas air mata tengah menjadi perbincangan publik karena digunakan petugas keamanan menangani kerusuhan suporter Aremania hingga memakan ratusan korban jiwa.
Polisi anti huru hara merupakan anggota dari kesatuan Brimob Polri. Tugas mereka salah satunya untuk mengantisipasi gangguan keamanan di suatu tempat rawan.
Dunia sepakbola turut berduka cita dengan tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang. Ucapan belasungkawa ini disampaikan oleh para pemain dan klub dunia.
Kasus di Kanjuruhan uruti peringkat ke-2 daftar kelam pertandingan sepak bola paling mematikan di dunia. Posisi pertama ditempati tragedi di Peru tahun 1964.
Manajemen Arema FC menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada keluarga korban. Saat ini manajemen Arema FC terus berkoordinasi dengan pusat layanan kesehatan untuk mengurus para korban.
Perubahan angka kematian tersebut setelah tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri melakukan pengecekan langsung terhadap para korban dan teridentifikasi 100 persen.
Perlu investigasi yang objektif dan tuntas dari berbagai aspek atas kerusuhan dan terjadinya korban jiwa yang besar itu, karena kasusnya bukan hanya nasional tetapi sudah berskala global
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyatakan, Pemprov dan Pemkab bersedia menanggung layanan kesehatan para korban kerusuhan di Stadion Kanjuruhan.
Insiden Kanjuruhan menewaskan ratusan suporter turut menjadi sorotan dunia. Kabar nahas tersebut juga terdengar oleh bek veteran Spanyol, Sergio Ramos.
Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebut satu nyawa saja sangat berharga dan harus dijaga. Tragedi di Stadion Kanjuruhan tentu menyisakan duka mendalam.