Ia mengungkapan bahwa dirinya sudah lama mengenal sosok Prof Atif. Amin menilai Prof Atip memegang teguh prinsip hidup dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam dan ke-Persis-an.
Dalam satu abad ini, sudah seharusnya Persis menemukan bentuk jati diri pendidikan Islam yang ideal guna melahirkan generasi penerus bangsa yang mumpuni dalam seluruh bidang kehidupan.
Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah, Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin mengungkapkan bahwa Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Seni Budaya dan Peradaban Islam (SBPI) ini memiliki pemahaman Islam yang mendalam dan mumpuni.
Ia menyebutkan bahwa peran dan kontribusi umat Islam dalam ekonomi masih jauh dari yang diharapkan. Padahal Indonesia merupakan penduduk dengan mayoritas umat muslim.
Hal tersebut ia sampaikan sebab dirinya beberapa kali bertemu secara langsung dengan calon ketum Persis itu. Salah satunya saat satu pesawat pasca-menunaikan ibadah haji.
Ia menjelaskan, persiapan dilakukan dengan sangat baik, mulai dari akomodasi hingga materi yang akan menjadi bahan pada muktamar nanti telah dipersiapkan dengan matang.
Ustaz Haris menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tranformasi bukan dakwahnya, melainkan gerakan dakwah yang fleksibel menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Kemudian gerakan dakwah juga untuk mewujudkan Islam yang Rahmatan lil 'Alamin.
Melalui pendekatan yang instensif, salah satunya dari jajaran Pimpinan Wilayah Persis DKI Jakarta, Ustaz Jeje mulai melunak dan menyatakan kesediaannnya untuk didorong jadi calon Ketua Umum PP Persis pada Muktamar XVI Persis.
Ketua STAIPI Jakarta ini menerangkan, berdasar hadits Nabi, tali-tali agama Islam itu akan terkelupas sehelai demi sehelai. Adapun yang pertama kali akan terkelupas dari tali Islam itu adalah tali hukum, sementara yang terakhir adalah tali salat.
Menurut Ketua STAIPI Jakarta ini, akidah dapat diartikan sebagai pelajaran yang paling mendasar dan merupakan ikatan seorang hamba-Nya dengan Allah SWT dengan seluruh ajarannya.
Menurut Ustaz Jeje, seorang mujtahid itu idealnya dalam memutuskan fatwa bukan hanya mempertimbangkan fahmun nushus (faham teks) tapi juga fahmun naas (memahami kondisi atau realitas manusia).