LANGIT7.ID - , Jakarta - Gerakan tutup mulut atau GTM umumnya dilakukan bayi saat memasuki tahap makanan pendamping asi (MPASI). Sering kali orang tua mencari berbagai cara agar anak mau makan dan menghentikan GTM.
Spesialis Anak dr Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A mengatakan, mengatasi GTM tidak bisa dilakukan sembarangan karena harus melihat kondisi sang anak terlebih dahulu.
"Jadi pendekatan untuk mengatasi GTM ini bukanlah dengan langsung bertanya solusinya apa. Tapi untuk mengatasi GTM kita harus tahu dulu penyebab utamanya apa. Jika penyebabnya sudah diketahui, Insya Allah langkah-langkah selanjutnya bisa diambil dengan baik," ujar dr Denta kepada Langit7, Kamis (17/3/2022).
Baca juga: Pentingnya Orang Tua Mendongeng Untuk Tumbuh Kembang AnakMenurut dr Denta, ada lima penyebab yang kerap terjadi pada anak yang tiba-tiba GTM, diantaranya:
1. Anak tidak lapar
Mungkin terasa konyol alasannya, ujar dr Denta, tapi bagi dokter yang sering secara
in depth menganalisa kebiasaan orang tua memberikan makan ke anak, ternyata masih banyak yang memberikan anak makan ketika kondisinya masih kenyang. Makanya, sangat wajar jika anak menolak makan.
"Bayi atau balita harus kita biasakan untuk bisa mengenali rasa lapar dan rasa kenyang. Caranya biar mereka terbiasa gimana, ya dengan
feeding rules," ungkapnya.
Beri jeda waktu antar makan paling tidak dua jam dan ini termasuk minum susu. Jadi di antara jeda makan tersebut, jangan diberikan susu atau cemilan. Ini akan membuat anak terus menerus dalam kondisi kenyang.
dr Denta menjelaskan, jika anak tidak ingin makan, tidak apa-apa lewati saja makannya. Jangan diganti dengan susu atau cemilan. Ia pun memberi saran untuk mencoba memberi makan dua jam kemudian.
Memberikan susu dan cemilan itu memiliki waktu khusus, tambah dr Denta, keduanya tidak bisa menggantikan makanan. Jika anak tiba-tiba tidak mau makan saat jam makan besar.
2. Anak tidak selera
"Ada pasien saya yang konsisten makannya sedikit-sedikit. Ketika saya tanya orang tuanya memberi makanannya apa, ternyata bubur tawar dan lauk. Sementara orang tuanya di waktu yang sama makan masakan padang," jelasnya.
dr Denta mengatakan, khasanah rasa anak itu mirip-mirip ibunya, karena terus menerus terpapar esens dari rasa makanan yang dikonsumsi ibu selama hamil dan menyusui.
Baca juga: Psikolog: Demi Pertumbuhan Anak, Jangan Sering Sindir Mereka"Jadi kasih MPASI jangan yang tawar, boleh kasih bumbu, boleh kasih gula garam secukupnya," jelas dokter lulusan Universitas Gadjah Mada ini.
Ada juga kondisi dimana anak pilih-pilih makanan, ketika diberikan makanan baru mereka menolak. Jangan putus asa juga, anak bisa butuh terpapar rasa yang sama hingga belasan atau puluhan kali sebelum akhirnya terbiasa dengan rasa baru makanan tersebut.
3. Anak sakit
Sakit ini, kata dr Denta, bisa saja sakit yang akut, alias sebentar saja. Misalnya infeksi virus ringan, pasti lebih sulit makannya. Hal tersebut normal terjadi, orang dewasa saja ketika sedang sakit bawaanya malas makan. Begitu pun dengan bayi atau balita merasakan hal yang sama.
Ada juga kondisi medis yang terjadi berbulan-bulan tanpa diketahui orang tua karena tidak keliatan dari luar, Misal ISK (infeksi saluran kemih) berulang, flek (tuberkulosis), penyakit jantung bawaan, alergi makanan, kekurangan mikronutrien dan sebagainya.
"Di sini pentingnya monitor rutin ke dokter. Biar bisa dilacak secara pasti ada tidaknya kondisi khusus tersebut," ujarnya.
4. Ada gangguan perkembangan atau perilaku
Beberapa balita dengan gangguan perilaku, wajar jika memiliki gangguan makan jug. Misal anak dengan spektrum autis, ADHD, dan lainnya. Gangguan perkembangan ini bisa sangat subtil, jadi tidak bisa terlihat bahkan dari penampakan luar sehari-hari sehingga membutuhkan pemeriksaan khusus oleh dokter spesialis anak.
5. Mispersepsi orang tua
Salah satu alasan kerap terjadi GTM lantaran adanya mispersepsi orang tua. Anaknya sudah makan dengan lahap, tapi karena porsi makan yang diberikan terlalu banyak, ketika anak sudah tidak mau makan, orang tua panik, dibilangnya makannya sedikit.
"Salah satu prinsip dari ngasih makan balita adalah
responsive feeding. Betul ada panduan seberapa banyak porsi yang diberikan. Tapi untuk praktik sehari-hari, kita juga harus melihat respon dari anak. Ketika terlihat kenyang, berarti cukup, kalau masih terlihat lapar, ditambahin lah porsi makanannya. Fleksibel saja," tutur dr Denta.
Baca juga: Makanan Bergizi Ternyata Bermanfaat Jaga Berat Badan SeimbangMenurut dia, kunci sukses dari MPASI ke bayi adalah ketika status gizi dan pertumbuhannya pas, tidak kurang, tidak kelebihan. Tips dari dr Denta, ketika anak GTM paling utama adalah dengan melihat lagi buku Kartu Menuju Sehat (KMS).
"
Flash back lagi bulan-bulan sebelumnya, ada gangguan nutrisi atau tidak, jika tidak ada, good job," kata dr Denta.
Selanjutnya mengevaluasi sendiri bersama pasangan atau
support system di rumah, kira-kira penyebabnya apa sampai anak GTM.
"Jangan ragu untuk konsultasi ke dokter atau spesialis anak untuk evaluasi asuhan nutrisi anak," pungkasnya.
(est)