LANGIT7.ID, Jakarta - Islam mengajarkan kita untuk hidup rukun berdampingan dan megnhargai satu sama lain. Maka dari itu, Islam melarang setiap umat muslim untuk memata-matai orang lain demi mencari kesalahan.
Istilah tersebut dikenal dengan
tajassus dan hukumnya pun haram. Larangan terkait perkara ini tertuang jelas dalam surat Al-Huhurat ayat 12, Allah berfirman yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang". (QS Al-Hujurat: 12).
Setiap orang berhak memiliki privasi dan rahasianya masing-masing. Setiap orang juga harus menghormati batas-batas privasi orang lain. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW melarang umatnya dalam memata-matai orang lain demi mencari kesalahan.
Baca Juga: Hikmah Gaya Hidup Sehat, Cegah Komplikasi Diabetes Melitus"Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling mendengarkan pembicaraan (rahasia) dan saling mencari kesalahan." (HR Bukhari nomor 6064).
Sebaliknya, Rasulullah menganjurkan kepada umatnya untuk mengoreksi kesalahan diri sendiri ketimbang mengorek kesalahan orang lain, beliau bersabda: “Dirahmatilah kiranya orang yang begitu sibuk dengan kesalahan dirinya sendiri, sehingga ia tidak peduli dengan kesalahan orang lain.” (HR al-Bazaar, dari Anas).
Namun bagaimana dengan seseorang yang menjalankan profesi mata-mata demi menjaga kedaulatan negara? Dalam konteks siasat peperangan, para ulama sepakat soal kebolehan seorang pemimpin kaum Mukminin mengirimkan seseorang untuk menyusup ke daerah musuh dan menyelidiki kekuatan musuh.
Tujuan dari penyelidikan ini adalah mengetahui taktik musuh dan memenangkan peperangan agar umat Islam tidak mendapatkan kehancuran. Dasar dari kebolehan ini adalah surat Al-Baqarah ayat 195, Allah berfirman yang artinya:
Baca Juga: 5 Kearifan bagi Pendidik dan Santri dari Trimurti Pendiri Gontor"Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-Baqarah: 195).
Landasan lainnya merujuk pada surat Al-Baqarah ayat 190. Kaum mukmin wajib menjaga agama Allah SWT. Tujuan dari hal ini biasa disebut dengan istilah jihad, upaya yang dilakukan pun demi kebaikan umat muslim dan agama Islam dari berbagai pihak yang ingin menjatuhkan agama Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya pada surat Al-Baqarah ayat 190 yang artinya:
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas". (QS Al-Baqarah: 190).
Baca Juga: Cegah Diabetes di Usia Muda, Yuk Lakukan 4 Langkah Ini(zhd)