LANGIT7.ID, Jakarta - Dua hal terbesar dalam kehidupan menurut almarhum Kiai Haji (KH)
Zainuddin MZ untuk ummat Islam, yakni keislaman dan keimanan. Hal tersebut merupakan fondasi dasar bagi setiap mukmin.
Dia melanjutkan, bukti keimanan dapat diwujudkan dengan berbagai bentuk aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, laksana juru parkir yang menjaga deretan mobil atau motor di pasar. Dia tidak akan sedih jika kendaraan-kendaraan tersebut pergi dan habis dari tempatnya.
Baca Juga: Kangen Zainudin MZ: Pemimpin Harus Utamakan Keselamatan Ummat"Jika imannya kuat, maka kehidupannya akan kuat, sebaliknya jika imannya rapuh, maka kehidupannya akan rapuh. Pisau kalau dipegang orang beriman, paling leher ayam yang putus, tapi kalau kurang iman, mungkin leher temannya sendiri yang putus," kata Zainuddin MZ dalam salah satu ceramahnya.
"Apa rahasianya, ternyata tukang parkir itu tidak merasa memiliki tapi merasa dititipi. Maka, siapa saja yang merasa memiliki, harus siap merasa kehilangan," ujarnya.
"Bahwa harta, ilmu, jabatan, dan apa yang kita punyai ini anggaplah seperti titipan, sehingga tidak pantas untuk sombong. Kemudian titipan harus dijaga baik-baik, Allah nitip Indonesia ini pun harus dijaga baik-baik, kalau tidak, yang punya titipan akan marah," ungkapnya.
Dari dua hal tersebut, dia mengatakan, orang bisa menang jika memiliki kekuatan. Untuk memiliki kekuatan, kata dia, harus bersatu dan salah satu resepnya menghidupkan silaturahmi. Menurut KH Zainuddin bangsa Indonesia mengidap tiga penyakit kronis.
Baca Juga: Kangen Zainudin MZ: Makhluk Selalu Siap Taat kepada Allah"Pertama, penyakit kudis, kurap, dan kutil. Kudis; kurang disiplin, mestinya bangsa ini memiliki disiplin yang tinggi, kadang kita takut atasan tapi tidak takut Tuhan, padahal semua konsep agama muaranya adalah disiplin," ucapnya.
Kedua, kurang rapih. "Kita bisa bangun masjid tetapi tidak bisa memakmurkan. Kita bangun rumah sakit Islam tapi jadi rumah Islam sakit, sekolah-sekolah yang ada bernasib
la yamutu wa la yahya; tidak bermutu dan mahal biaya. Inilah fenomenanya," katanya.
Kutil, yakni akronim kurang teliti. Jika ada aliran baru dan sebagainya masyarakat mudah terperdaya dan terpesona. "Sumber tiga penyakit ini adalah kuman; kurangnya keimanan. Karena itu, mari terus kita perkuat, mantapkan, dan tingkatkan keimanan," tuturnya.
Baca Juga:
Duterte Maju Lagi di Pemilu 2022, Kali Ini Jadi Wapres
WHO Klaim Pasukan di Afghanistan Hanya Kuat Sepekan(asf)