LANGIT7.ID, Jakarta - Islam adalah agama rahmatan lil alamin yang menghendaki kebaikan bagi alam semesta. Pun demikian dengan pembawa risalahnya, Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang menginginkan agar semua manusia berada di jalan keselamatan.
Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang paling halus hatinya. Rasulullah sangat mencintai dan senantiasa mencemaskan nasib umatnya bahkan sampai akhir hayatnya. Tak hanya kepada mereka yang telah menerima Islam, Rasulullah juga bersedih bila ada orang kafir yang menolak ajarannya.
Firman Allah dalam Surat Al Kahfi ayat enam:
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا
Baca Juga: 6 Manfaat Puasa Senin-Kamis bagi Kesehatan yang Jarang DiketahuiArti: Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Alquran).
Mufassir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah memberikan penjelasan mengenai ayat tersebut. Surat Al Kahfi ayat enam menggambarkan betapa Rasulullah sangat berkeinginan agar semua manusia beriman.
Baca Juga: Tafsir Az Zukhruf Ayat 11: Allah Turunkan Hujan dengan ProporsionalKeingkaran kaum musyrikin sungguh menyedihkan hati Rasulullah. Karena itu, Surat Al Kahfi ayat enam menggambarkan belas kasih atas perasaan Rasulullah dengan menyatakan:
Maka akibat ucapan dan perbuatan kaum musyrikin itu apakah barangkali engkau akan membunuh dirimu sendiri karena bersedih hati atas sikap mereka berpaling dari tuntunan-tuntunan yang engkau sampaikan, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini, yakni kepada Alquran.
Baca Juga: Nasaruddin Umar: Menara Masjid di Zaman Nabi untuk Kontrol SosialKata la‘alla sebagaimana kata ‘asa digunakan untuk menggambarkan harapan atau rasa kasih terhadap mitra bicara. Pada Surat Al Kahfi ayat enam ini rasa kasih itulah yang dimaksud. Ada juga yang memahami kata tersebut di sini dalam arti larangan, dan bila demikian ayat ini menyatakan:
Wahai Nabi Muhammad, janganlah engkau membinasakan dirimu hingga mati akibat rasa sedih sebab penolakan mereka terhadap ayat-ayat Alquran.
Baca Juga: 4 Tips Pilih Jodoh, Nomor 1 Paling Dicari Banyak OrangSurat Al Kahfi ayat enam juga dipahami sebagai tamsil (perumpamaan) keadaan Rasul yang sangat bersedih akibat penolakan kaumnya. Rasulullah diibaratkan seorang yang terpaksa meninggalkan keluarga dan kampung halamannya. Beliau melihat mereka dan bersedih karena perpisahan itu.
Menurut riwayat Ibnu 'Abbas bahwa 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, an-Nadhar bin Harits, Umayyah bin Khalaf, al-Asya bin Wa'il, al-Aswad bin Muththalib, dan Abu Buhturi di hadapan beberapa orang Quraisy mengadakan pertemuan. Rasulullah saw merasa susah melihat perlawanan kaumnya kepadanya dan pengingkaran mereka terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya, sehingga sangat menyakitkan hatinya. Lalu turunlah ayat ini.
Baca Juga: Istri atau Ibu, Mana yang Harus Didahulukan Seorang Laki-laki?(zhd)