Muhammadiyah menyebut penyakit gangguan ginjal akut pada anak-anak tak bisa diremehkan. Jangan sampai masalah ini merugikan masa depan bangsa nantinya.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo diminta mengusut kemungkinan adanya tindak pidana pada kasus Gagal Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada anak-anak.
Menurut pakar kesehatan dr Saddam Ismail, ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang sangat vital karena berfungsi untuk membuang cairan, membuang sisa metabolisme, dan membuang zat-zat yang tidak diperkukan oleh tubuh seperti racun.
Menurut Puan, jika kasus ini ditetapkan sebagai KLB, maka akan berpengaruh pada langkah penanganan dan pengobatan untuk mengatasi penyakit tersebut, termasuk soal pembiayaan dan berbagai kemudahan lainnya.
Netty mengatakan penetapan kondisi KLB untuk kasus gangguan ginjal akut pada anak harus menunggu hasil kerja tim yang dibentuk oleh pemerintah untuk menyelidiki kasus tersebut.
Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik UGM, Prof. Apt. Zullies Ikawati, Ph.D., menyebut imbauan menyetop penggunaan obat dalam bentuk sirop menjadi keputusan yang dilematis.
Menkes Budi telah melakukan ujicoba terhadap enam pasien gangguan ginjal akut. Hasilnya, empat pasien responsif. Menkes pun akan mendatangkan obat tersebut dalam jumlah masif.
Puan mengatakan penggunaan dan penjualan obat sirup harus disetop untuk sementara waktu, termasuk di apotek. Puan juga meminta pemerintah menggencarkan edukasi publik terkait fenomena gangguan ginjal akut misterius pada anak di Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, penyakit yang belum diketahui penyebabnya itu meningkat menjadi 241 kasus dan 133 meninggal akibat gagal ginjal akut.
Menanggapi hal tersebut, Kalbe Farma selaku salah satu produsen obat di Indonesia memastikan produknya tidak menggunakan bahan baku Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG).
Yusuf Maulana (44), mendapati putrinya Emira Tatiana Denisova yang baru berusia 7 bulan, terserang penyakit misterius yang disebut sebagai Acute Kidney Injury atau Gangguan Ginjal Akut. Tak sampai sepekan setelah gejala pertama muncul, Emira menghembuskan nafas terakhir.